Foto bugil indonesia

foto bugil indonesia | foto cewek bugil indonesia | model bugil indonesia | gambar bugil indonesia | bugil indonesia | artis indonesia bugil | artis bugil | foto artis bugil | gadis bugil | indo bugil | jilbab bugil | klik bugil | photo bugil | abg bugil | bugil asia | cewek bugil | cewek indonesia bugil | foto bugil | foto bugil artis indonesia | foto cewek bugil | gadis indonesia bugil | smp bugil | smu bugil | video bugil | gambar bugil | gambar cewek bugil | video indonesia bugil | memek bugil | bugil | indonesia | artis indonesia

Cerita Dewasa – Pagar Makan Tanaman 04

Dari bagian 3

Kamar yang sangat pribadi yang hanya boleh dimasuki oleh suami istri sah, saat ini aku menginjakkan kakiku di dalamnya. Gila, suasana kamarnya demikian romantis, ranjangnya dibungkus kelambu tipis seperti dalam film roman barat atau seperti kamar hotel bintang lima saja. Dindingnya penuh wallpaper bernuasa lembut dan romantis. Kasurnya sangat empuk dan ‘mentul-mentul’.

Kuletakkan tubuhnya dengan lembut di ranjang, tapi lengannya tak mau lepas dari pundakku. Ditariknya aku mendekat dan diciumnya mataku dengan manja. Aku elus lembut betisnya, perlahan naik kepahanya dan aku stop sampai disitu dulu, memberi kesempatan dia melepas lelahnya. Dia nampaknya tidak setuju dan dia mengelus batang kemaluanku sambil tidur memandangku. Spontan penisku tegang. Dielusnya lembut naik turun penisku, nikmat sekali rasanya mendapatkan sentuhan seorang istri kesepian yang haus kenikmatan birahi. Matanya sayu menatapku dengan wajah meminta dilanjutkan di ranjangnya.
“Rob, kapan kamu keluarinnya. Sini aku hisap mau..?”, pintanya memelas.
Batinku, ‘Siapa yang ngga pingin? Tapi ntar dulu bidadariku. Aku akan bikin kamu bergetar lebih hebat dalam ronde ketiga, sampai habis cairan nikmatmu nanti’.
Karena elusan lembut tangannya pada buah zakarku, aku mengelinjang dan jujur saja nafsuku naik demikian hebat. Mataku sudah gelap, ingin segera kutembakkan penisku ke liang memeknya. Tapi alam sadarku masih main, aku bertekad bikin Henny benar-benar terkapar dan mencari kenikmatan terus dariku.

Henny telentang di tepi ranjang. Wajahku mulai kuturunkan ke kakinya. Henny heran dan melihatku ke bawah sambil meremas penisku tanpa sadar.
“Kamu mau ngapain cayang, koq ke kakiku?”, tanyanya dengan heran.
Tanpa menjawab, aku teruskan program kerjaku ngerjain Henny, kapan lagi aku bisa tunjukkan kemampuanku memuaskan dia, pikirku. Aku ciumi ujung jarinya, aku hisap jempol kakinya.
“Ahh.. gelii..”, reflek dia tarik kakinya menjauh dari mulutku.
“Aduh sayang.. nikmat sekali. Pintar juga kamu menaikkan birahiku”, tambahnya sambil meremas penisku yang tak lepas dari genggamannya.
Aku tarik kembali kakinya dan kuteruskan menciumnya, terus naik ke betisnya. Dia mulai menggoyangkan kedua kakinya, bergerak kesana-sini. Aku tahu dia mulai terangsang lagi. Segera bibirku kuarahkan ke lututnya dan aku cium kuat-kuat sambil kupegangi agar tidak lepas dari ciumanku. Dia berontak hebat.
“Oouw.., geli..! Teknikmu banyak banget sih Rob, bisa gila aku ML ama kamu..”, celotehnya penuh nafsu sambil mulai mengocok penisku lembut.

Aku teruskan ciumanku karena aku tahu dia menikmatinya dan lututnya diangkat ke atas sambil melenguh panjang. Tangan kiriku mulai meraba pahanya, pelan tapi pasti rabaanku menuju pangkal pahanya dan seperti mengerti dan memang menanti, dia buka lebar pahanya, sehingga terlihat klitorisnya yang memerah. Darah sudah mengumpul didaerah itu, pasti sensitifitasnya udah sangat tinggi. Jariku berputar-putar dibibir kemaluannya sambil sesekali seperti tanpa sengaja aku menyerempetkan tanganku ketengah vaginanya, dia menggelinjang manja seperti berharap terulang lagi. Setelah basah lututnya oleh air liurku dan penisku sudah ngga tahan karena elusan jarinya yang lembut, aku mengalihkan ciumanku ke pahanya. Nampak dia melenguh manja sambil kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tanda birahinya mendekati puncak. Pelan tapi pasti, kucium terus sampai menyentuh area lipatan pahanya yang menghubungkan bibir kemaluannya. Sebagian wanita, juga sangat mengharapkan daerah tersebut disentuh, dijilati dan dihisp-hisap. Kenikmatannya sungguh berbeda, mengantarkan ke puncak orgasme. Benar juga dia sudah mulai menggelinjang keras sambil mengangkat pantatnya, sehingga rambut halusnya menyentuh hidungku. Bibirku perlahan-lahan masuk ke wilayah rambut kemaluannya yang tipis. Bulu Henny tipis sekali, tidak terlalu lebat dan tidak kasar. Nampak sengaja bulu itu dirawatnya dengan baik dan harum bercampur aroma khas kewanitaannya mulai aku rasakan, menambah syahwatku meningkat. Kudenguskan nafasku ke liang vaginanya tanpa menyentuhnya dulu. Ini teknik juga untuk memancing agar sang wanita memburu dan setengah memaksa meminta agar menyentuhnya. Benar saja, dia sodorkan bibir kemaluannya ke mulutku kedua kalinya.

Langsung aku meresponsnya karena aku pikir sudah saatnya gelombang kenikmatan aku antarkan ketiga kalinya. Dengan kedua jariku, kubuka sedikit bibir kemaluannya, kutemukan klitorisnya, kukulum, kujilat dan.. kusedot-sedot. Wouw.. rekasinya sungguh dashyat, pantatnya melonjak keatas memukul gusi dan gigiku, luar biasa reaksi wanita yang sedang penuh birahi. Kulumat lembut ujung klitorisnya, merembet ke tepi bibirnya dan menuju bibir bawah yang menyambung ke anusnya. Kembali lonjakan histeris terjadi hingga dia berteriak keras.
“Rob.., ahh.. ahh.., aduhh.. ngga kuat, ayo masukkan, masukkan..”, pintanya histeris.
Aku diamkan saja, aku goyang-goyangkan dan lidahku menari-nari di permukaan vagina Henny. Gerakan kakinya tak beraturan lagi, kepalanya ke kiri-ke kanan sambil jari tangan kiriku aku masukkan ke mulutnya. Disedot-sedotnya jariku sambil kadang digigitnya menahan kegelian klitorisnya yang kusedot-sedot.

Lidahku makin menjelajah lebih dalam ke rongga vaginanya, keatas-kebawah, sambil menari-nari. Cairan sudah mengalir namun orgasme belum tiba. Tangan kananku sedikit membantu membuka jalan agar lidahku bisa masuk jauh ke dalam, bila perlu sampai ke dekat G-Spotnya. Lidahku bisa masuk dan mulai naik ke bagian atas klitoris bagian dalam dan tak lama..!
“Robby.., aku mau pipis lagi Rob! Gila kamu Rob, kamu apain aku ini?”, teriaknya sambil kukunya mencengkeram rambutku dan menekannya keras kepalaku lebih menempel ke liang vaginanya dan kakinya menjepitku.
“Crutt.. cruut.. cruut..! Ahh.. gila.. gila Rob, ngilu Rob..”, cetusnya.
Seketika itu juga cairan itu muncrat dan masuk ke kerongkonganku. Asin, gurih, putih pekat dan nikmat sekali. Langsung kaki dan tangannya lepas mencengkeramku dan kini lemah terkulai diatas kasurnya. Cairan itu tidak sampai jatuh ke sepreinya, karena tertelan semua olehku. Aku mulai menjilati vaginanya, membersihkan cairan yang tersisa dan menelan semuanya.
“Ihh.. ngilu Rob.., kamu ngga jijik Rob?”, tanyanya menatapku heran.
“Ngapain jijik ama cairan orgasmemu, kalau sayang, maka segalanya yang bisa menyenangkan hatimu, pasti aku lakukan”, jelasku padanya.
“Kamu baik ya Rob! Aku ngga pernah lho dimimik ama suamiku. Apalagi mau sampai jilatin, wong orgasme sampai muncrat kayak tadi aja gak pernah”, keluh kesahnya padaku sambil mengelus penisku.
“Kamu bikin aku gila beneran Rob! Nafsuku menggila, puncak kenikmatanku pertama kali gila kayak gini. Aku bisa tergila-gila ama kamu Rob..”, tambahnya belum puas memujiku.
“Kamu belum tembakkan pelurumu, aku udah 3X orgasme, wah.. ceweq mana ngga gila ama kamu, Rob..!”, celotehnya terus karena kepusan yang kuberikan.
“Aku ngga pernah main ama ceweq lain kecuali istriku”, bantahku.
“Kalau malam ini sama siapa Rob, hayoo..!”, sergahnya.
“Ohh, itu lain bidadariku. Berdosa aku kalao nggak memuaskan birahimu”, jawabku.

Sambil saling memuji dan menyanjung, tanganku mulai memainkan putingnya lagi hingga terjadi denyutan di bibir vaginanya. Aku lihat handuk kecil di ujung ranjang. Aku tarik dan aku pergi ke toilet untuk memberikan sedikit air di handuk tersebut, lalu aku oleskan dengan lembut di vaginanya. Segera kukeringkan bibir kemaluannya dengan tiupan dari mulutku. Henny terkejut menggelinjang geli, mungkin sisa-sisa rasa ngilunya masih tersisa. Karena sudah ketiga kalinya aku membuat Henny orgasme, sudah menjadi kebiasaanku pada istriku, saatnya tiba babak terakhir dimana biasanya aku masukkan penisku ke liang kemaluan istriku. Dihadapanku ada Henny yang terkapar kenikmatan, sementara aku belum meraihnya, ini saatnya.

Langsung straight, ciumanku tertuju pada klitorisnya. Kujilati kiri dan kanan, atas dan bawah sampai pertemuan anusnya. Anusnyapun tak luput aku jilati. Disini Henny menjerit hebat sambil pantatnya terangkat. Cairan putih membasahi klitorisnya, aku hisap dalam-dalam sampai Henny berontak melompat.
“Rob.., ahh.. ooh.., geli Rob! Ayoo.. masukkan, aku capek Rob, please..”, pintanya.
Aku naiki tubuhnya dan posisiku menindihnya. Spontan lengan Henny meraih penisku.
“Penismu gede banget cayang, ayoo masukin yach..”, pintanya.
Digosok-gosokannya ke klitorisnya, turun ke bawah dekat anus, ke klitoris kembali, sedikit ditekan masuk dan ditarik keluar kembali.
“Ayoo cayang, aku udah ngga kuat. Ngga kebayang gimana ngilunya aku saat penismu yang besar ini nembus liang kenikmatanku..”, pintanya.
Perlahan dituntunnya penisku ke arah liangnya, pelan dan dengan lembut aku bantu dorong masuk, agar Henny tidak terkejut dan nyeri karena penisku. Kutekan, kutarik, kutekan dan kutarik. Makin lama tekanannya makin dalam dan.. masuklah setengah penisku ke liang kenikmatannya.
“Oou.. sakit Say, pelan aja yach. Sini aku bantu”, katanya meringis.
Karena sudah terlumasi oleh cairan kewanitaannya, cukup mudah penisku masuk walaupun agak sempit. Makin lama makin habis tertelan penisku dan Henny melenguh nikmat sambil matanya melek merem, kepalanya ke kiri dan kanan. Kudiamkan sejenak, ini teknik juga buat membuat wanita menderita menanti sodokan akhir. Henny mengangkat pantatnya meminta aku memulai sodokan mesra.

Kusodok pelan-pelan, bagaikan film slow motion.Ini membuat Henny merengkuh kenikmatan yang luar biasa. Biasanya kaum Adam kalau sudah begini digenjot seenaknya sendiri tanpa variasi kenikmatan pasangannya.
“Hayo.. Rob, aku udah ngga kuat..! Aku mau puncak lagi nikh”, rengeknya.
Terasa penisku disedot-sedot di dalam lubang kenikmatannya, kuat sekali cengkeraman Henny sampai lututku terasa ngilu dibuatnya. Dipelintir, disedot tak karuan lagi rasanya, hanya nikamt surga kurasakan. Kugenjot makin kuat dan keras, terdengar bunyi ceplak.. ceplok.., karena basahnya bibir kenikmatan Henny. Selama 10 menit dengan posisi itu, Henny berteriak-teriak histeris karena penisku menyentuh mentok rongga dalam vaginanya. Seprei sudah acak-acakan dan cakaran-cakaran nikmat banyak tergores dipunggungku. Karena aku sudah lelah dan Henny juga loyo, tak terasa sudah 3 jam berlalu, dengan seluruh fantasiku, kupaksakan diri untuk segera orgasme. Dengan beberapa sodokan kilat, aku mengerang keras sambil menjambak rambut Henny. Demikian juga Henny mengerang keras makin menyedot-nyedot penisku di dalam, kedua pahanya menggapit pinggulku kuat sekali. Kepalanya bergoyang tak beraturan lagi.

“Ahh.. ahh.., Hen.. aku keluar Hen! Ahh.. Ohh.., ayo sama-sama, Hen..”, pintaku.
Crott.. crott.. crott.., tembakan cairan spermaku keras menyembur di liang kenikmatan Henny. Demikian juga Henny.
“Robby.. Robby.., peluk aku Rob, nikmat Rob, nikmat sekali..”, lenguhnya keras sekali.
Serr.. serr.. serr.., cairan itu dimuntahkannya. Terasa oleh penisku ada semburan hangat menerpa dan banyak sekali, deras..! Kami berdua lemas, lelah dan aku rebah disampingnya, diapun memiringkan tubuhnya tanpa mencabut penisku dari liang kenikmatannya.
“Robby, thanks berat yach! Aku ngga nyangka bisa orgasme 4X dalam sekali permainan. Kamu hebat bisa bikin aku gini. Aku takut kehilanganmu Rob, please jangan pernah lupakan aku yach..”, cetusnya.
“Suamiku kalau ML denganku, ngga lebih dari 3 menit udah muncrat.., aku ngga pernah orgasme sekalipun, ini udah 7 tahun pernikahanku”, keluhnya.
Tanpa terasa airmatanya menetes lagi dan kusuap dengan jariku penuh kasih sayang dan kuyakinkan dia bahwa aku akan selalu menyayanginya.
“Henny sayang, kapanpun kamu butuhkan aku, aku siap memuaskanmu. Suamimu di rumah, kamu call HP-ku, kita atur pertemuan di P Cottage yach..”, pesanku.
Aku cabut penisku yg masih tegang dan kami berdua mengakhirinya dengan mandi bersama dan kami tidak jadi dinner karena sama-sama lelah dan terpaksa aku menginap di rumahnya sampai mentari menyingsing di ufuk timur. Bahagia sekali Henny pagi itu, bagaikan baru saja meraih piala Citra yang diidam-idamkan oleh para artis film Indonesia.

Demikian kisah nyataku dalam memenuhi birahi istri temanku sendiri dan akan kulanjutkan kisah asmaraku dengan Henny dalam episode berikutnya yang lebih seru dimana Henny merekomendasikan 2 temannya dengan status istri, untuk menikmati kebahagiaan seperti yang dirasakannya.

E N D

Cerita Dewasa – Pagar Makan Tanaman 03

Dari bagian 2

“Hayo.. sayang, ayo.., sentuhlah pusat kenikmatanku. Henny butuhkan saat ini, ay.. ayo.. ayoo.. Rob. Kejam kamu Rob, kejam kamu, aku mau puncak Rob!”, teriaknya keras sekali sambil pantatnya terangkat tinggi bertumpu pada kakinya.
“Iya bidadariku.., tunggu saatnya tiba, aku tahu kapan saat kenikmatanmu akan tiba, aku akan buat bidadariku terbang ke Surga kembali, melayang diawan-awan, ayo Hen.. rasakan.. rasakan yach.., terus.. nikmati aja”, celotehku tak karuan lagi sambil tetap memujanya.
Pantatnya terus diangkat beberapa kali sambil menggelepar-gelepar, rambutku dijambak, didorong minta pusat kewanitaannya segera aku sentuh. Aku tetap mendiamkannya, aku buat dia tersiksa dan ciuman bibirku kupindahkan ke puting kirinya dan “secepat kilat”, jari tengah kananku menyetuh bibir kemaluannya. Makin menggeleparlah dia dan terasa sudah sangat becek oleh cairan kewanitaannya. Aku gosok-gosok lembut antara bibir kemaluannya sampai ke bawah mendekati anusnya. Saat jariku menyentuh bagian bawah dekat anus, Henny berteriak keras sambil memukul kepalaku.
“Robby.. Robby.., jangan siksa aku, ayoo.. lakukan untukku Say..”, pintanya.
Secara pelan aku gosok 3-4 kali, mendadak seluruh tubuhnya mengejang, pantat diangkat tinggi sekali, berteriak histeris dan pundakku dicengkeram dengan kuat dan sampai tergores oleh kukunya. Saat itu menyemprotlah cairan kewanitaannya sangat banyak. Semprotannya seperti pria sedang buang air seninya, sampai mengenai seprei putih di kasurnya. Inilah orgasme pertama yang diterimanya dariku.

Pikirku, tunggu bidadariku, sebentar lagi kubuat kamu melayang-layang kembali, menyemprotkan cairanmu kembali bagaikan pemadam kebakaran menyemprotkan air secara deras. Sejenak tubuhnya melemas, cengkeramannya lepas dari pundakku tapi tangannya mengelus kepalaku. Kulihat senyum manis.. sekali terlihat dari bibirnya yang sensual. Tangan kananku lepas dari kemaluannya, aku elus pahanya sambil bibirku menciumi pusarnya.
“Ahh Rob, geli.. geli Rob! Sayang.., kamu hebat Say.. belum apa-apa aku sudah kamu buat orgasme. Sampai berapa kali Say mau buat aku orgasme seperti tadi?”, tanyanya mengandung makna meminta dan meminta.
“Tenang Hennyku yg lembut, berapa kalipun kamu inginkan, aku siap memuaskanmu, kamu malam ini menjadi milikku sepenuhnya”, kataku merayu.
“Jangankan malam ini, selamanyapun kalau Robby mau memilikiku, aku siap tinggalkan Har, serius sayangku. Aku butuh kenikmatan darimu”, sahutnya.
“Bener nikh bidadariku? Itu tadi belum apa-apa lho, tunggu babak berikutnya yang lebih heboh, surprise untukmu bidadariku..”, janjiku.
“Kapan.., sekarang dong Say, aku udah siap nikh menerima serbuanmu”.
“Tunggu sayang, sabar aja yach! Kamu akan rasakan bedanya sentuhanku dibanding suamimu dan pria lainnya, tunggu yaa..!”, aku meyakinkannya.

Tanganku mulai meraba bawah pusarnya secara halus, terasa gelinjang pantat Henny menerima sentuhanku kembali. Bibirku mulai menjelajahi ketiak kirinya. Menggelinjang lagi dia. Ketiak yang tanpa bulu, putih bersih dan harum baunya, membuat penisku berdenyut-denyut keras dan tak kuduga menyentuh tangan kanan Henny yang masih menggelayut lemas di pinggir sofa.
“Rob.., apa nikh.. pentung karet atau Mr. “P”-mu Say?”, celetuknya. (Henny pakai istilah itu untuk penisku).
“Emangnya kenapa bidadariku?”, tanyaku pura-pura tidak paham.
“Koq gede banget, panjang dan keras.Apa ngga jebol vagina ceweqmu?”, katanya terheran-heran.
“Emang punya suamimu seberapa?”, pancingku ingin tahu punya suaminya.
“Ahh.. sudahlah.. jangan nanya-nanya itu lagi. Aku udah bilang, muak aku ama suamiku..”, bentaknya.
Bentakan seorang istri yang aku tahu tidak pernah mendapatkan kepuasan dari suaminya, walaupun menunggu sekian tahun, yang saat ini sedang merengkuh kenikmatan tersebut dan merajut kasih dengan teman suaminya.
“Sorry Say, aku merusak susana kenikmatanmu. Okey lupain yach”, kataku.
“Ngga apa-apa sayang, sorry aku marah. Aku tidak mau terlewatkan sedetikpun kenikmatan yang baru aku raih bersamamu, Rob..!”, sahutnya.
“Robby, mau khan kamu kasih kenikmatan aku lagi, please mulai ya..”, pintanya padaku dengan manja sambil mengelus meraih batang kemaluanku.
Tanpa mendapatkan jawabanku, aku mulai menjelajahi seluruh permukaan perutnya dengan bibirku. Aku cium, aku sedot pusarnya yang bersih dan harum (mungkin tadi sedikit disemprotkan parfum).
“Ahh.. nakal kamu yaa Say, geli banget lho Say..!”, serunya.
“Mau yang geli atau yang sakit, bidadarku?”, tanyaku balik.
“Terserah kamu aja. Aku seneng lho Rob kamu panggil aku bidadari”.
Aku teruskan cium pusar itu, terus turun dan turun mendekati bulu indah kemaluannya. Dipikirnya aku akan melanjutkan ke bawah dan mungkin ini yang diharapkan dan aku tahu itu. Sengaja aku buat “trik” agar dia protes dengan cemberut manjanya. Ternyata benar juga.
“Rob, terusin ke bawah donk. Kenapa, jijik ya? Emang kamu ngga pernah kiss kewanitaan istrimu?”, pancingnya penuh arti.
“Tenang bidadariku, tunggu dong, sabar..! Kenikmatan akan makin puncak kalau dilakukan dengan lembut sayangku”, sahutku.
“Ini yang ngga aku dapetin dari Har lho sayang..”, pengakuan jujurnya.
Aku kulum terus sekitar pusar dan bulu halus kemaluannya dia terus mendesah dan makin keras desahan itu sambil mengangkat tinggi pantatnya minta kusentuh klitorisnnya. Tapi aku biarkan dia menderita dengan kenimatannya, aku bikin nafsu birahinya mendekati puncak lagi. Aku baru mau memulai babak kedua untuk kenikmatannya.

Babak kedua aku mulai dengan mencium mata Henny. Dia diam dan menikmatinya sekali. Kudiamkan cukup lama kecupanku di matanya, sambil jari tengah tangan kananku bermain di pusarnya. Kuraba pinggir pusarnya, berganti masuk ke dalam pusarnya. Keluar lagi, masuk lagi terus menerus sampai dengus nafasnya mulai timbul lagi karena rangsangan itu.
Ciumanku beralih ke rambutnya, turun ke telinga kanannya, lidahku menjilati daun telinga bagian dalamnya, menjelajahi semua daerah dalam telinganya dan nampak tubuh Henny mulai menggeliat penuh nafsu. (Bagi sebagian wanita, daun telinga karena kulitnya sangat tipis, sangat sensitif menerima rangsangan dan hasilnya biasanya dahsyat, biasanya langsung cairan kewanitaannya mengalir keluar di vaginanya).

Aku tahu dia suka dengan jilatan di telinga itu, maka sengaja kuperlama, terus turun leher bagian dalam (bawah dagu) dan naik lagi ke dagunya. Lenguhan panjang mulai sering keluar spontan dari mulutnya. Kuturunkan ciuman tersebut ke payudara kirinya, sementara tangan kananku mulai turun menyentuh bibir kemaluannya, mengelusnya, sedangkan tangan kiriku memilin-milin puting kanannya. Aku tekan keras, aku longgarkan, aku tekan lagi sambil aku lakukan gigitan mesra di puting kirinya.
“Auuw.., ihh nakal cayang yaa..”, jerit kecilnya sambil membelai rambutku dengan manja.
“Teruskan Say.. Say.., aku suka koq, gigit lagi Say, gigit..”, pintanya.
Ahh.. kena juga pancinganku, tambah lagi daerah sensitif Henny yang kuketahui (telinga, pusar, sekitar bulu kemaluannya dan putingnya). Seolah tanpa merespons, aku sedikit menjauh dan ternyata dia menyorongkan susunya mulutku. Aku gigit mesra lagi, pelan tapi lama tak kulepaskan. Dia menggeliat hebat dan menjambak rambutku.
“Gila kamu Rob, pintar banget kamu menaikkan nafsuku. Gila.. gila..”, celotehnya nggak karuan sambil tetap menjambak rambutku keras sekali.

Aku buat strategi baru.Tangan kananku meninggalkan kemaluannya dan dia nampak tidak mau tanganku menjauh dari situ, sebab tangannya menuntun tanganku kembali ke sana. Tapi aku lepaskan. Kedua tanganku beralih ke gunung kembarnya yang putih dengan putingnya yang masih kemerah-merahan. Melihat bentuk sekitar putingnya, nampaknya si Har jarang menyedot dan mengulumnya. Sebab kalau puting sering dikulum dan disedot, apalagi sudah punya anak, pasti akan berubah warna coklat kehitam-hitaman. Aku remas-remas kedua susunya sambil aku mainkan putingnya. Kemudian aku tarik sama-sama ketengah dan kutemukan ujung puting kiri dan kanannya, aku hisap dalam-dalam sambil aku gigit pelan sekali. Nampaknya dia menikmati sekali dan minta lagi dan lagi dengan menekan kepalaku agar tidak bisa lepas dari kedua ujung putingnya.

“Ahh.. Ohh.. hhm.. hmm.., terus Rob, terus! Gila bener, Ahh.. terus sedot, terus gigit Say sampai pagi, nikmat sayangku.. nikmat sekali, jangan pernah berakhir Say, terus.. terus, Ahh.. Ohh..!”, rintihnya hebat.
Wouw.. aku lihat rona wajahnya memerah pertanda telah terjadi dilatasi atau pelebaran semua pembuluh darahnya, menampakkan darah mengalir deras ke seantero tubuhnya. Kepalanya menengadah keatas sambil melenguh panjang. Terus aku sedot-sedot, aku pilin-pilin kedua putingnya dengan lidahku. Aku putar-putarkan lidahku menjelajahi semua daerah putingnya, makin mengeras sekali kedua putingnya (mungkin suaminya tidak pernah membuat sensasi seperti ini). Didorongnya kepalaku mengarah ke bawah dengan kedua tangannya yang halus dan aku tahu apa yang diinginkannya, tapi kembali birahinya benar-benar aku permainkan, aku ingin dia mendapatkan orgasme kedua kalinya. Aku acuh saja dan tetap menyedot kedua putingnya, sampai dia berteriak.
“Ohh.. geli, ngilu, kejang semua tulangku Rob, stop.. stop ngga kuat aku Say, udah.. udah..! Ahh.. hmm.. hmm.. ehh..”, dengusnya sambil mengangkat dadanya.

Pelan-pelan aku lepaskan kedua puting susunya, ciumanku mulai turun ke sekitar pusarnya lagi, tangan kananku mulai meraba bibir vagina. ‘Serangan fajar’ mulai kuaktifkan, klitorisnya mulai aku sentuh dengan jari tengahku dan ciumanku di sekitar pusar dan bulu kemaluannya aku tingkatkan sambil aku sedot-sedot. Ini menaikkan aliran darah vaginanya. Jariku mulai masuk perlahan-lahan, mencari lubang pipisnya, terus masuk menjelajahi rongga-rongga labia minoranya. Secara refleks pantatnya terangkat keatas meminta agar terus disentuh. Pelan tapi pasti, jariku terus masuk dan naik ke atas klitoris bagian dalamnya, mencari pusat G-Spotnya. Dia berontak bukan marah tapi mungkin berontak, ‘mengapa tidak dari tadi kau sentuh bagianku ini?’. (Siapapun wanita itu, kalau G-Spotnya sudah ditemukan dan dirangsang lembut, pasti akan terbang melayang diawan-awan dan dijamin 100% semprotan cairan kenikmatannya akan segera datang).

Kutemukan segumpal daging kecil seperti kutil, masih lembut dan halus dan lembek. Perlahan tapi pasti aku gosok-gosokkan jariku disekitar G-Spotnya, dan.. bagian itu mulai mengeras, tidak lagi lunak tapi mulai kasar permukaannya, bagaikan pasir mengeras, bergerigi dan membesar. Gerakan tubuh Henny sudah tak teratur dengan lenguhan panjang penuh birahi, pertanda semprotan kedua segera tiba.
“Ahh.. Oou.. ngilu Rob, ahh.. aku koq pingin pipis Rob, pipis Rob, pipis..! Rob.. tunggu, tunggu Rob, aku mau pipis nikmat..”, rintihan birahinya.
“Pipiskan aja Say, keluarkan, semprotkan Say, muncratkan, nikmati Say..”, bisikku mesra ke telinganya.
“Ngga kuat Rob.. ngga kuat! Ngga apa-apa to aku pipis?”, tanyanya.
Gila.. pikirku, dia ngga pernah ngerasain pipis birahi? Gila.. apa yg dilakukan suamimu Hen.., keluhku dalam hati. Betapa menderitanya Henny tanpa pernah ada yang membahagiakan bathinnya.
“Aahh.. Ahh.., Rob.. aku pipis Rob..! Rob, tolongin aku Rob, ngilu Rob.., ngilu banget Rob! Ahh.. ahh..”, teriaknya dengan histeris sambil tangannya mencakar punggungku kedua kalinya.
Cairannya menyembur keluar seperti yang pertama, kembali mengenai sofanya banyak sekali.
“Robby cayang, gila benar kamu Rob! Udah dua kali kamu buat aku mencapai puncak, meskipun Mr “P”-mu belum sempat menyelam lubang pipisku..”, celoteh kekagumannya.
Aku biarkan dia mengoceh dengan kenikmatannya.
“Rob, aku lemes, panas! Keringatku banjir lho Rob.., bawa aku ke kamar, di kamar sejuk karena AC-nya udah aku hidupin dari tadi”, sambil kedua lengannya menggelayut di pundakku pertanda minta kugendong manja.
“Okey tuan putri, demi bidadariku, aku siap melakukan perintah tuan”, sahutku memanjakannya.
“Aku cayaang.. banget ama kamu Rob, kamu pintar banget puasin aku”.
“Hen, itu baru ronde kedua dan belum apa-apa lho, masih kuat ngga?”, tanyaku memancing nafsunya sambil menggendongnya dan masuk ke kamarnya.

Ke bagian 4

Cerita Dewasa – Pagar Makan Tanaman 02

Dari bagian 1

Setelah aku tunggu cukup lama sekitar 20 menit, Henny keluar dari balik pintu kamarnya dengan “daster tipis tembus pandang” warna pink.Daster yang menurut aku hanya layak digunakan di kamar tidur bersama suami tercinta. Apalagi dasternya model tali kecil di pundak, dengan potongan di dadanya sangat rendah, sehingga jelas nampak olehku dadanya yang putih mulus dengan belahan bukit kembarnya yang aduhai.. seperti buah sedang ranum-ranumnya. Gila benar Henny ini, pikirku. Karena sinar lampu kamarnya yang sangat terang sedangkan diruang tamu cukup redup, maka di balik dasternya terlihat belahan pahanya yang mulus sampai ke pangkalnya. Di balik daster tipisnya, terlihat BH dan CD mininya berwarna “merah anggur”, kombinasi warna yang sangat serasi dan nampaknya Henny ini sukanya warna-warna pastel dan pintar mengkombinasikan warna. Pikirku, di ranjangpun pasti suaminya puas, pasti Henny juga pintar mengkombinasikan gerakan-gerakan ataupun variasi sex yang bikin pria melayang-layang bagaikan di langit ke tujuh.

“Robby sayang.., koq ngelamun terus to, ngga rela yaa dinner disini? Atau ada janji ama WIL mu? he.. he.., bercanda lho Rob..”, sapanya bikin aku tersadar dari lamunan sambil dia mendekat padaku.
“Ngawur aja WIL, emangnya aku ada tampang nge-WIL apa? Ngapain mikirin WIL yang jauh, wong ada bidadari disini..”, sahutku.
Aku pikir pertanyaan tentang WIl itu pasti cuman pancingan aja dari Henny dan sudah kepalang basah aku buat Henny makin tersanjung aja dengan panggilan bidadari. Aku ingin tahu reaksi selanjutnya.
“Kamu anggap aku bidadari Rob? Ngga salah tuh? Apa pantas sih Rob?”, pancingnya lagi makin mendekat, dekat sekali sampai tercium wanginya.
Aku pikir, kena tuh pancinganku. Aku paham benar hati seorang istri/ceweq, kalau udah dimanjain gitu pasti langsung terkapar klepek-klepek, seperti ayam baru disembelih.
“Iya bidadariku.., aku tadi bukan ngelamun tapi kagum ama penampilanmu Hen. Aku bayangkan betapa bahagianya suamimu punya istri seanggun gini. siapa ngga akan kerasan di rumah terus? Seandainya aku punya istri kayak Henny, wah.. aku betah dirumah..”, aku sanjung lagi dia.
“Itu menurut kamu.., tapi Har dingin banget koq ama aku. Lagian, apa hanya suami aja yang harus dibahagiakan istrinya? Apa istri juga ngga patut dibahagiakan Rob..?”, protesnya dengan manja padaku.
Wah.. mati aku, makin terbuka aja nampaknya nikh. Kena juga pancinganku.
“Wouw, salah besar kalau suami harus dibahagiakan “tanpa” istrinya ikut bahagia. Itu pandangan jaman Siti Nurbaya Hen..!”, sanggahku.
“Terus, gimana pendapatmu tentang posisi seorang istri Rob?”, tanyanya.
“Aku sangat tidak setuju dengan type cowoq begitu. Di mataku, ceweq itu ciptaan Tuhan yang sempurna, patut untuk disayangi, dihargai, dimanjakan dan untuk itu kita nikah khan karena saling menyayangi, Hen..!”.
“Apa suamimu dingin toh Hen..? Kasihan dong kamu Hen..?”, tambahku.

Di luar dugaanku, dia tidak menjawab pertanyaanku tapi malah merebahkan kepalanya di pundakku, dan bajuku tahu-tahu sudah basah oleh airmatanya.
“Rob, hanya kamu pria satu-satunya di luar suamiku yang tahu hal ini. Aku percaya kamu, aku tahu kamu baik dan bisa menyenangkan hatiku, makanya aku berani buka penderitaan bathinku selama ini”, sahutnya pelan.
“Ak.. ak.. aku lama memendam derita ini Rob! Istri mana yang kuat dengan situasi, Rob..!”, tambahnya sambil mulai sesenggukkan.
“Aku pingiin banget cerita ama kamu, aku tahu kamu penyabar dan pasti mau dengerin keluh kesahku.. dan aku harap kamu pria yang bisa membahagiakanku, mau kamu Rob..?”, terus aja dia nyerocos tiada henti dan nampaknya bagi Henny malam inilah puncak pemberontakan hatinya.
“Jangan gitu Hen, apalah aku, aku siap koq bantu kasih masukan ke suamimu bila perlu”, jawabku sebisanya karena hatiku sudah terbuai aroma birahi.
“Jangan.. jangan Rob, percuma. Dia sudah sangat dingin dan ngga akan berubah dan aku.. aku.. udah ngga respek lagi ama suamiku”, jawabnya sambil tangannya menarik tanganku, didekapnya tangan kananku dan pelan-pelan ditaruh di dadanya sambil ditahan oleh kedua tangannya (posisi dia ada di sebelah kiriku).

Perlahan-lahan aku tarik dia dan aku ajak duduk disofa panjang, aku tenangkan dia dan dia kududukkan dikiriku tanpa aku lepas tanganku didadanya, kapan lagi pikiranku yang sudah mulai ngeres. Aku belaian rambutnya yang harum dengan penuh kasih sayang dan kukecup keningnya tanpa permisi lagi. Dia diam saja bahkan matanya dipejamkan sambil wajahnya dipalingkan kearahku, seperti menanti ciuman berikutnya ditempat yang lebih nikmat, benar-benar siap menanti kulumanku.
“Hen.. berapa lama kamu udah menderita, bidadariku..?”, rayuku sambil tangan kananku mulai aku turunkan perlahan-lahan.
“Bukan pertanyaan itu yang aku butuhkan Robbyku..”, sambil reflek bibirnya menyerangku.
Dikulumnya bibirku, diciumnya dengan nafsu sampai ke hidungku segala, demikian birahinya Henny malam itu.

Tanpa memikirkan bahwa itu adalah istri temanku sendiri dan memang “nafsuku akan sangat cepat meningkat” bila melihat kemanjaan wanita seperti di hadapanku saat ini. Ditambah gaunnya yang menerawang, aroma parfumnya yang pasti harganya jutaan, ketiaknya yang putih bersih tanpa bulu, mata hatiku sudah gelap.. gelap sekali. Aku balas ciuman bibirnya, aku mulai buka mulutkan, aku mainkan lidahnya, aku kulum bibir luarnya yang tipis dan sensual, aku jelajahi rongga mulutnya dengan jilatan lidahku sambil tanganku mulai berani makin turun. aku remas-remas halus, halus sekali buah dadanya. Henny mulai mendesah panjang, ahh.. ohh.. hhm.. hmm..! Tanganku kubawa ke belakang, ingin aku buka ikatan tali BH nya, ehh.. malah dia membusungkan dadanya seolah menginginkan agar segera tali BH itu dibuka.

Sekali tekan, lepaslah tali itu dan.. Henny makin buas menyedot-nyedot lidahku, sampai ketarik dalam sekali dan mau muntah nikmat rasanya. Tangan kananku mulai kedepan kembali, kusentuh pinggir putingnya tanpa aku mau menyentuh putingnya dulu dan tangan kiriku membelai rambutnya. Dia memajukan dadanya, menggerak-gerakkan seolah minta segera disentuh putingnya, dan.. sengaja makin aku jauhi puting itu, makin dia penasaran dan makin desahannya tidak karuan (itu memang teknik aku memancing birahi wanita yang sudah puncak, aku biarkan birahinya tersiksa, dengan teknik ini wanita akan mampu orgasme berkali-kali. Pengalamanku dengan istriku, hanya foreplay dengan sentuhan dan kuluman bibirku di bibirnya di variasi di puting, di telinga dan terakhir di bibir vagina sampai masuk kena klitorisnya, dia bisa orgasme 2-3 kali. Baru setelah itu, aku tembakkan senjataku yang teramat tegang dengan kocokan lembutnya dengan berbagai variasi selama sekitar 10-15 menit, akan membuat minimal orgasme sekali dengan gelora birahi paling puncak dan biasanya aku mencapai klimaksnya dengan memuntahkan spermaku).

“Robby sayang, sentuh.. sentuh putingku Rob, kulum.. cepet kulum Rob.. aku butuh kenikmatan darimu Rob.., ayo.. jang.. jangan mainkan birahiku Rob, aku tersiksa bertahun-tahun, puaskan aku.. puaskan aku, please..!”, pintanya sambil berontak dan gaun itu sudah tidak karuan lagi posisinya dan aku terkejut, bibirku digigitnya.
Aku kecup lehernya yang jenjang dan aku kasih kecupan membekas merah anggur, karena aku tahu suaminya masih lama datangnya. Di tengah gelora nafsuku, otakku masih bisa berpikir normal, peduli amat, kalau suaminya mau datang masih nampak merah, aku kerokin aja lehernya, suruh Henny bilang kalau masuk angin, khan beres ngga akan curiga suaminya.

Ciumanku mulai turun ke dadanya, aku lama bermain di sekitar itu sambil jari kananku mulai sentuh putingnya lembut sekali. Puting itu demikian tegangnya, entah berapa lama ketegangan itu terjadi. Dia menggelepar menerima sentuhan lembut pertamaku di putingnya. Aku pilin pelan-pelan dan tangan kiriku mengangkat ketiaknya. Aku angkat dia biar berdiri dengan maksud aku ingin membuka dasternya. Dia paham banget dan membantu menaikkan dasternya keatas dengan cepat dan penuh nafsu, dilemparkannya daster itu jauh sekali sambil menyerbu bibirku kembali.

Tinggallah dua bukit indah dan kenyal di hadapanku dan dibawahnya masih menempel CD merah anggurnya. Demikian buas dan binalnya Henny bila birahinya memuncak, padahal Henny yang kukenal sangat kalem dan lemah lembut. Itulah wanita, sangat berbeda bumi langit antara penampilan luarnya dengan saat di ranjang (kalau mengerti merangsangnya lho yach). Dengan bertelanjang dada dan dengan nafsunya, aku ditarik keras sampai terjatuh di sofa panjangnya. Mungkin ini sudah diharapkan oleh Henny. Tertindihlah tubuh Henny olehku, dengan perlahan tanpa mau melepaskan bibirnya dari bibirku, dia merebahkan diri sambil tangan kirinya menekan kuat aku ketubuhnya, dia ngga mau tubuh kami terpisah, terasa olehku kekenyalan bukit kembarnya.

Tanpa melewatkan kesempatan yang indah di depanku dan situasi birahi Henny yang sudah demikian meletup-letup, maka perlahan tapi pasti ciuman bibirku mulai mengarah ke payudaranya yang kanan, sementara tangan kananku masih melanjutkan memilin-milin puting kirinya. Desahan birahi dan geleparan badannya sudah tidak teratur. Tercium olehku aroma birahi wanita dari nafasnya. Jika pria kurang perhatian, pasti mereka tidak mengetahui perubahan aroma nafas seorang wanita yang birahinya memuncak. Lidahku aku mainkan menggelitik puting kirinya, sebentar aku lepas sesat kemudian aku kulum lagi. Nampak rasa kecewa Henny saat bibirku lepas dari putingnya, tapi matanya terpejam kembali sambil melenguh panjang bila bibirku menyentuh putingnya kembali. Permainan ini sengaja aku ciptakan, biar Henny merasakan ketagihan yang luar biasa, disitu biasanya orgasme wanita hampir tiba.

Tangan kananku mulai lepas dari puting kirinya, perlahan dengan lembut sekali hampir tidak menempel di kulitnya, aku rabakan tangan kananku menurun ke perut dan sekitar pusarnya. Pantatnya sedikit terangkat sambil rambutku dijambak-jambaknya, pertanda meminta sentuhan yang lebih jauh dan lebih nikmat. Dipaksanya kepalaku turun ke bawah, tapi sengaja seolah aku kurang paham, aku terus permainkan puting kanannya, lidahku berputar-putar bagaikan baling-baling helikopter, menerjang keras dan kadang lembut, sambil tangan kananku berputar-putar di antara bawah pusar dan di atas rambut kemaluannya. (Pria yang paham akan hal ini, akan mempermainkan jari-jarinya cukup 1-2 menit di daerah ini, karena daerah ini mempunyai sensitifitas yang tinggi bagi wanita, aliran darah akan memusat di sekitar daerah tersebut, hingga menimbulkan rangsangan yang puncak untuk siap menyemprotkan cairannya. Aku permainkan jariku di situ tidak lama hingga timbul reaksi yang di luar dugaanku sama sekali.

Ke bagian 3

Cerita Dewasa – Pagar Makan Tanaman 01

Namaku Robby. 10 tahun yang lalu, aku punya kisah nyata yang sangat asyik dan sayang untuk tidak aku bagikan pada rekan netter. Pengalamanku memuaskan istri teman yang sedang birahi berat namun tidak mendapatkannya dari sang suami, sangat membekas dalam kehidupanku, sehingga karena pengalaman ini pula yang membuat aku sampai kini sering sulit untuk menolak beberapa istri kesepian yang membutuhkan pemuasan birahi. Seperti netter ketahui (yang sudah berpengalaman RT), bila istri sudah birahi dan tidak mendapatkan pemuasan yang maksimal, banyak efek samping yang akan timbul, seringkali keluhan nyeri kepala, mual dan gangguan emosional selalu menyertainya.

Aku hidup dan berbisnis di kota D dengan pulaunya yang sangat terkenal di mancanegara, juga dengan pantai K nya yang indah, tempat wisatawan menjemur diri. Aku bergerak dibidang farmasi. Aku punya teman dekat, baik secara persahabatan maupun dalam bisnis. Namanya Har (samaran) dan istrinya cantik, anggun, usianya sekitar 25 thn, biasa dipanggil Henny. Hubungan bisnisku dengan Har dan istrinya berjalan sinergis, karena Har dan Henny bergerak dibidang Alat Kesehatan (Alkes). Aku sering membawa klien/konsumen pada mereka, demikian juga aku sering mendapatkan orderan dari mereka. Setiap Har memberikan orderan sales untukku, Henny selalu menambahkan orderan tersebut, sehingga menguntungkan aku secara value. Hal ini menambah rasa respekku pada Henny, karena dia selalu memperhatikan dan membantu salesku kalau sedang jelek, tanpa sang suami mengeluhkannya.

Berjalannya waktu, sekitar 1,5 tahun sejak aku kenal mereka, bisnis kami berdua sukses dan Har mengembangkan usahanya sampai keluar kota, bahkan keluar pulau. Seringkali kalau Har pergi cukup lama, dia selalu menitipkan istri dan anaknya padaku untuk aku perhatikan segala sesuatunya. Karena kedekatanku sudah seperti keluarga sendiri, setiap pesan Har selalu aku perhatikan. Aku akui, bahwa Har sungguh berbahagia memiliki istri yang boleh aku katakan mendekati sempurna, dengan tinggi 167 cm, berat sekitar 49 kg, kulitnya putih mulus, penampilannya lemah lembut dengan sedikit kemanjaan dan di pipinya tak ketinggalan dengan lesung pipitnya. Kesanku bahwa kedua insan ini nampak rukun, damai, karena setiap aku berkunjung ke tempatnya, tak pernah sekalipun sang suami tidak didampingi istrinya dan setiap kali istrinya selalu tidak pernah jauh duduk disebelah suaminya sambil salah satu tangannya menggelayut dipundak sang suami, mesra sekali nampaknya. aku jadi iri dibuatnya.

Suatu ketika, Har telepon aku dan berpesan titip anak dan istrinya, karena Har akan ke pulau K selama seminggu.
“Rob, aku mau ke K seminggu, kamu kalau butuh order, langsung aja sama henny yach, tolong perhatikan juga anak istriku ya”, pesannya.
“Okey Har, ngga usah kuatir, akan aku bantu apapun keperluan istrimu”.
Seperti biasanya, setiap Selasa aku selalu datang ketempat keluarga har untuk mendapatkan orderan, dan seperti biasa juga bila sang suami tidak ada maka Henny yang menemuiku.
“Hay Hen, gimana kabarnya, aku minta orderan nikh, kasih yg banyak ya”, pintaku padanya.
“Mau berapa kamu Rob, aku sih siap bantu kamu berapapun kamu minta”, balasnya.
Ahh, kalau itu sih aku yakin Henny tahu kebutuhanku, iya ngga?”.
Setelah pelanggan sepi dan aku mendapatkan orderan dari Henny, aku akan pamit pulang.
“thanks orderannya ya Hen, kalau ada problem, kontak aku aja”, pesanku.
Aku langsung tancap kemobil dan membuka pintu.
“Robby, Rob, ntar dulu, kenapa sih buru-buru pulang?”, tanya Henny.
Belum sempat aku menjawabnya, dia langsung menyampaikan keluhannya.
“Rob, itu lho si Raymond (anaknya) agak ngga enak badan, suhu badannya tinggi, dimana yach dokter anak yang bagus, kamu khan tahu?”, katanya.
“Oh ada, itu dr. AH di jl.Diponegoro, bagus dokternya”, kataku.
“Kamu bantuin aku yach, antarin aku ntar sore”, pintanya.
Aku bingung untuk menjawabnya, bingung antara menolong sebagai istri teman baikku dengan perasaan sungkanisasi yang tinggi karena suami tidak ada, kuatir jadi bahan gunjingan tetangganya, apalagi dokter spesialis anak tsb sampai malam selesainya. Henny tahu keraguanku.
“Ayolah Rob, please bantu aku. Pegawai dan sopirku jam 05.00 sore khan udah pulang. Apa aku perlu telepon istrimu untuk mintain ijin?”.
Karena kasihan anaknya sakit dan dia sendirian tanpa suami, aku iba.
“Okeylah, kamu mau telepon istriku atau ngga, terserah. Pokoknya ntar sore jam 16.50 wita, aku jemput kamu yach, jangan terlambat”, jawabku.
“Thanks ya Rob, kamu baik banget deh, aku udah siap pasti”, sahutnya.

Tepat pukul 16.50 wita aku sudah berada di depan pintu rumahnya. Aku tekan bel rumah dan selang beberapa saat Henny muncul dengan pakaian sederhana.
“Ntar ya Rob, tadi ada pelanggan itu lho, aku jadi belum siap kamu datang. Tunggu bentar yach, kamu baca-baca dulu deh”, katanya.
“Okey Henny, sampaikan dulu, rias yang cantik biar dokternya naksir ama kamu”, gurauku padanya tanpa ada jawaban darinya.
Sekitar 15 menit kemudian, muncul Henny dari balik pintu kamar dengan Gaun yang amboi indahnya. Gaun yang sepantasnya digunakan saat ada pesta atau acara resmi. Aku tertegun akan kecantikannya, kelembutannya dengan mengenakan gaun tersebut. Dengan gaun panjang, putih halus kombinasi bunga-bunga tulip pink didadanya kebawah, aroma parfumnya yang lembut dan pati harganya diatas 1 juta. Dengan sepatunya yang tidak terlalu tinggi (memang Henny body nya sudah tinggi), menambah keanggunan dirinya.
“Hey Rob, emangnya kenapa? koq bengong gitu sih? cantik ngga gini?”, tanya Henny.
“Aduh, anggun banget lho Hen. sampai aku terpesona. Apa ngga terlalu bagus untuk hanya kedokter anak, Hen?”, saranku padanya.
“Karena Robby yang suruh, okey aja aku tukar bajunya. Kalau gitu, kamu tunggu dulu ya Say..”, jawabnya sambil berlari masuk ke kamarnya.
Terkejut aku dibuatnya. apa aku ngga salah dengar nikh, sejak kapan Henny panggil aku semesra itu? Memang bukan henny kalau tidak buat hatiku selalu berdetak keras, dag.. dig.. dug..! Kejutan demi kejutan makin membuat aku mengaguminya. Aku sendiri diruang tamu menunggu sang bidadari ganti pakaian. Sudah 2 kali aku dikejutkannya. Lamunanku pada kejutan pertama dengan gaun indahnya, kedua panggilan mesra yang “mungkin hanya boleh ditujukan pada orang yang paling dicintainya”.
“Rob, gimana kalau aku pakai pakaian casual gini, masih feminin ngga?”, tanyanya dengan penuh manja sambil menggendong si Raymond (anaknya).
Kembali aku tertegun dibuatnya.Dengan jeans ketatnya dikombinasikan atasan tipis warna biru muda, dengan bunga-bunga kecil warna putih hijau, dibagian bawah bajunya ditali simpul, menampakkan keanggunannya walaupun dengan pakaian gaya apapun. Bisa feminin, bisa juga sensual dengan pakaian casualnya.
“Rob, koq diam aja sih, ngga setuju aku casual gini ya?”, tanyanya.
“Henny bidadariku, aku sangat setuju 1000% deh, anggun banget kamu”.
“Apa, apa kamu tadi bilang Rob, coba ulangi sekali lagi?”, pintanya sambil mendekat dan mencubit perutku sebelah dalam.
“Aduh, sakit lho Hen!”, teriakku kecil, karena takut si kecil terkejut.

Tanpa basa-basi lagi, aku segera ajak Henny dan anaknya segera berangkat, karena aku sudah daftarkan dan mendapatkan urutan nomor 26. Perjalanan aku tempuh cukup singkat dan aku bersama Henny terdiam membisu selama menunggu giliran dipanggil masuk. Pikiranku berkecamuk membayangkan kemanjaannya, cara dia mencubitku. Juga saat itu aku kuatir bila ada teman istriku yang lain ketemu dipraktek tsb, atau jumpa relasi, khan bisa timbul rumors macam-macam nantinya, walaupun kalaupun istriku tahu, tidak akan menimbulkan masalah. Kemudian giliranku dipanggil masuk, aku suruh dia masuk sendiri keruang dokter, tapi wajahnya cemberut tanda protes. Aku bingung, gimana nanti sang dokter ngga kaget, koq aku sama perempuan lain? (dokternya sudah kenal denganku). Aku ikuti saja kemauannya, dan setelah aku jelaskan persoalannya pada sang dokter, diperiksa dan diberikan resep. Aku keluar dan menebus obat racikan diapotik sebelah praktek dokter.

Semua berjalan lancar dan aku meluncur pulang kerumah Henny. Si kecil ternyata tertidur pulas dan ternyata tiudrnya terus sampai pagi tidak bangun. Rupanya si kecil cukup paham terhadap sikap, keinginan hati sang maminya. Dalam perjalanan, aku tidak banyak komentar, demikian juga dengan Henny. Entah mengapa, sejak aku panggil dia bidadari, sejak saat itu dia banyak diam. Diam yang bagaimana, hanya Henny yang bisa menjawabnya. Namun nampak wajahnya penuh sorot bahagia, dibuatnya dikit-dikit manja padaku, tanpa mau bicara. Itulah wanita, seribu rahasia hatinya disimpan rapat, bagaikan merpati yang tulus dan suci. Tapi kalau sudah kena hatinya, apapun dia akan pasrahkan, apalagi kalau sang arjuna bisa memanjakannya. Aku rasa semua wanita mempunyai kemiripan yang sama, wanita itu ingin dipuji, dipuja, disanjung, dimanjakan, maka pasti seluruh jiwa raganya akan dipasrahkan pada kita. Banyak pria kurang memahaminya, wanita dijadikan obyek derita, wanita dijadikan pelampiasan nafsunya, tanpa mau mengerti perasaan wanita. Karena hal ini, timbul banyak maslah RT dalam perkawinan, itu tidak lain karena kaum Adam biasanya super egois. Tapi syukur, aku salah satu type pria yang mau mengerti jiwa wanita, aku bisa menyelami perasaan wanita dan aku punya kelebihan bisa membaca suasana hati wanita yang sedang aku hadapi. Demikian yang aku hadapi saat ini, sesosok istri yang cantik, anggun dan manja, penuh romantisme, feminin dsb.

Tepat pukul 18.55 wita, aku tiba kembali dan Henny segera masuk kamar tidur si kecil dan aku menutup pintu pagar. Mobil tetap aku parkir diluar, karena aku pikir tidak lama aku akan pamit pulang. Semua aku lakukan hanya demi menghormati teman baikku, tidak enak berlama-lama dirumah dengan istri orang sendirian saja.
“Rob, kamu jangan pulang dulu yach, temenin aku dinner, okey?”, tegur Henny setelah keluar dari kamar.
“Aduh Hen, sorry deh, ini udah malam, ngga enak dilihat tetangga. Khan suamimu ngga dirumah”, jawabku.
Tanpa kuduga, wajahnya langsung memerah dan menampakkan kekecewaan yang dalam.
“Rob, aku itu ngga bisa ma’em sendirian, ntar aku ngga ma’em sakit, khan kamu yang repot nganterin aku ke dokter lagi”, rayunya padaku.
“Gimana ya Hen”, jawabku singkat dan bingung.
“Udah deh, apa aku perlu teleponin istrimu. Please Rob, please bantu aku, temenin aku sekali aja, khan ngga tiap kali kamu bisa nemenin aku berdua aja dinner di rumahku?”, rayunya penuh manja.
“Khan udah sering aku makan malam disini, Hen”, jawabku menguji.
“Aku pingin berdua aja ama kamu Say.., please yach. Aku mau banyak curhat ama kamu, kapan lagi Rob, mau ya, yach?”, pintanya terus merengek tanpa aku diberi kesempatan menjawabnya.

“Ayolah Rob, aku udah siapin masakan kesukaan kamu lho siang tadi. Kamu khan paling suka Tenderloin steak thoo..?”, serbunya tanpa aku bisa komentar.
“Okey Hen, gini aja. Aku call suamimu dulu deh, biar suamimu tahu anakmu sakit dan aku tadi ngantarin kamu dan.. aku diundang dinner kamu, gimana okey..?”, ini permintaanku yang rasanya win-win situation.
“Boleh aja Rob, berarti kamu mau khan, asyiik..!”, begitu responsnya.
Aku berpikir, gawat juga deh menghadapi istri seperti gini, situasi ini bikin aku sulit menolaknya dan segera aku kontak si Har untuk memberitahunya dan ternyata Har penuh pengertian dan sangat percaya padaku dan istrinya.Akankah kepercayaan ini disalahgunakan?
Pembicaraanku dengan suaminya didengar oleh Henny dan langsung wajahnya menampakkan sinar bahagia, seperti anak kecil mendapatkan ice cream.
“Nah Rob.., kamu tunggu bentar yach, aku ganti baju dulu dan siapin ma’em nya biar asyik, benar ngga Say..?”, pintanya dengan senyum manis.
“Yach.., aku tunggu deh”, sahutku.
Aku pikir, sejak sore hari sudah 3 kali panggil aku dengan kata “Say”, apa gak salah tuh istri Har ini?

Ke bagian 2

Cerita Dewasa – Kisah Cinta Lewat Internet

Tanggal 27 Mei 2003 adalah hari pertama kisah “Nita, Kolegaku” ditampilkan di id.wordpress.com. Siang itu saya membuka email, sedikitnya ada 2 (dua) email baru yang berhubungan dengan kisah di atas. Pertama dari orang yang mengaku Eko. Dia menawarkan untuk berbagi “teman-teman” saya kepadanya, atau tukar pasangan dengan pasangannya. Dengan tawarannya itu saya menolaknya dengan halus. Bahwa hal itu tidak mungkin saya lakukan, karena saya sudah komitmen untuk menjaga privasi mereka. Melalui tulisan ini sekali lagi saya mohon maaf kepada Mas Eko.

Surat ke-2 adalah dari Ibu Lilis (bukan nama yang sebenarnya). Alangkah baiknya kalau isi suratnya saya sampaikan, karena dengan suratnya itu, kami pada tanggal 31 Mei 2003 telah melakukan skandal seks. Saya pun minta ijin kepada beliau untuk menampilkan kisahnya di id.wordpress.com dan beliau setuju saja asalkan namanya disamarkan.

*****

“Hallo Mas Rudy, nama saya Lilis, tinggal di Semarang. Umur saya 35 tahun, suami saya 38 tahun, dan saya mempunyai seorang anak yang baru masuk kuliah di ITB Bandung. Saya harap Mas Rudy juga mau menolong saya.

Yang menjadi permasalahan bagi saya adalah suami saya sering di luar kota karena profesinya sebagai seorang wirausahawan. Di rumah, saya sering hanya ditemani para pembantu. Keseharian saya sering diisi dengan aktivitas aerobik sendiri di rumah, membaca-baca majalah, melihat televisi, atau sekedar merapikan taman. Selain dari itu saya lebih sering melamun, dan akhirnya merasa gelisah, ada sesuatu yang kurang. Kebutuhan biologis saya kurang terpenuhi.

Belakangan saya membaca tulisan di majalah tentang pornografi di internet. Berkali-kali saya baca tulisan itu sebelum kuputuskan untuk mencoba bermain internet. Dan akhirnya sekarang saya mempunyai kebiasaan baru, mengunjungi warnet tiap hari. Yang saya cari adalah situs-situs porno. Saya juga mencari-cari film-film porno hasil downloud di komputer yang saya pakai. Sekitar satu bulan saya biasa berkunjung ke warnet-warnet dan pagi ini saya membaca kisah Saudara di id.wordpress.com.

Dengan kisah saya di atas, sekali lagi saya mohon Mas Rudy dapat menolong saya. Apa yang harus saya lakukan kemudian? Tolong hubungi saya langsung di 08x xx xx.”

Surat Ibu Linda tidak segera saya balas. Sore harinya saya menelponnya langsung lewat wartel.
“Hallo. Bisa bicara dengan Ibu Linda?”, saya menyapanya.
“Iya. Saya sendiri. Ini dengan siapa ya?”, jawabnya.
“Saya Rudy. Maaf. Apa benar Ibu mengirimi saya email pagi tadi?”, tanya saya.
“Ooo. Ini Mas Rudy? Mas Rudy bisa menolong saya?”, tanyanya lagi.
“Saya bersedia Bu. Sekarang Ibu di mana?”, kataku.
“Saya sedang di rumah.”, jawabnya.
“Alamat Ibu? Nomor telepon rumah? Atas nama siapa?”, saya menanyakan beberapa data penting untuk saya ketahui.
Ibu Linda menyebutkan sebuah alamat dan nomor telepon beserta nama pendaftarnya.
“Terima kasih Bu. Nanti saya hubungi lagi.”, kataku kemudian.

Saya pinjam buku telepon yang ada di wartel. Data yang Ibu Linda berikan saya periksa untuk meneliti keasliannya. Dan ternyata, saya menemukannya, cocok. Saya menghubungi beliau lagi, tetapi dengan nomor telepon rumahnya.
“Hallo. Bisa bicara dengan Ibu Linda?”, saya kembali menyapanya.
“Iya. Saya sendiri. Ini Mas Rudy ya?”, tanyanya.
“Betul Bu. Maaf. Saya harus menanyakan data-data penting di atas. Saya harap Ibu tidak tergesa-gesa. Saya lihat dulu agenda saya minggu ini. Nanti kalau ada waktu luang, Ibu saya hubungi lagi.. Bagaimana?”, kata saya.
“Saya tunggu Mas Rudy. Minggu ini saya tidak ada acara khusus.”, jawabnya.
“Kalau begitu, cukup sekian Bu.”, kata saya lagi.
“Iya. Terima kasih Mas Rudy.”, katanya menutup pembicaraan kami.

Malam harinya saya survey alamat yang diberikan oleh Ibu Linda. Cukup lama saya mondar-mandir sebelum akhirnya ketemu. Kebetulan di depan rumahnya ada sebuah warung, saya mampir.
“Teh hangat Pak!”, kata saya pada pemilik warung.
Sambil menunggu minuman, saya menyantap jajanan yang terhidang di meja.
“Pak, itu rumah pejabat ya?”, tanya saya menyelidik.
“Bukan Mas. Itu rumah Pak Wandi, pengusaha sukses.”, jawab pemilik warung.
Ternyata Ibu Linda memberikan informasi yang benar.
“Anaknya berapa Pak? Rumahnya besar sekali.”, tanya saya lagi.
“Cuma satu. Kuliah di ITB. Ibu Linda, istrinya, sekarang sendirian di rumah, kasihan. Soalnya Pak Wandi sering ke luar kota.”, katanya lagi menerangkan.
“Ooo. Begitu.”, kataku singkat.
Saya menghentikan percakapan karena tujuan saya sudah tercapai. Setelah makan dua buah jajan dan minum teh hangat, saya segera membayarnya dan pamitan.
“Pamit dulu Pak.”, kata saya sambil keluar.
“Iya. Terima kasih.”, jawab pemilik warung.

Esok harinya saya langsung menghubungi Ibu Linda.
“Hallo?”, saya memberi salam.
“Hallo.”, jawab penerima telepon.
“Selamat Pagi Bu.”, sapa saya setelah tahu yang menjawab adalah Ibu Linda.
“Mas Rudy ya? Bagaimana? Sudah menemukan hari dan waktu luang untuk saya?”, tanya beliau bersemangat.
“Sudah Bu. Hari Sabtu besok, tanggal 31. Sepanjang hari. Kita ketemu di mana?”, jawab saya seraya bertanya.
“Terserah Mas Rudy aja. Kan Mas Rudy sudah pengalaman?”, katanya balik bertanya.
“OK. Kita ketemu di Rumah Makan “X” pukul 08.00 WIB. Bagaimana saya dapat mengenal Ibu?”, saya bertanya lagi.
“Mas Rudy akan mudah mengenali saya. Tinggi badan saya 165 cm. Tubuh saya cukup langsing. Rambut saya hitam sebahu. Saya akan memakai celana “kulot” warna cream dan baju putih. Saya juga akan memakai kacamata hitam. Mobil saya sedan Toyota Soluna warna hijau.”, katanya menjelaskan lagi.
“OK. Sampai hari Sabtu.”, kata saya menutup pembicaraan.

Hari Sabtu 31 Mei pagi pukul 07.30 WIB, saya sudah berada di Warung Makan “X”. Saya sengaja duduk di bagian depan sehingga dapat melihat ke areal parkir. Setelah menunggu sekitar 30 menit, saya melihat sedan Toyota Soluna masuk ke tempat parkir. Seorang wanita muda keluar dengan ciri-ciri seperti yang Ibu Linda gambarkan. “Ibu Linda” masuk ke Warung Makan “X”, segera saya sambut.
“Maaf. Ini Ibu Linda?”, sapa saya.
“Iya. Apa saya mengenal Anda?”, tanya beliau serius.
“Saya Rudy. Kita janjian bertemu di sini.”, saya menjelaskan.
Sejenak dia agak heran. Mungkin dia tidak pernah membayangkan seorang Rudy seperti saya. Saya memang tidak terlalu tampan. Tinggi badan saya 168 cm, dan berat badan saya sekitar 80 kg. Tanpa menunggu lama, segera saya ajak beliau ke tempat saya tadi.
“Silahkan duduk Bu.”, ajak saya.
“Terima kasih.”, katanya singkat.
“Maaf. Apakah Ibu kecewa dengan saya?”, saya mencoba menebak.
“Saya kira tidak. Tadi saya hanya kaget, saya sudah bertemu dengan Anda. Dan saya tidak menyesal meskipun Anda nanti berkhianat. Saya sudah muak dengan suami saya.”, dia mencoba bercerita lebar.
Saya segera memotong kata-katanya, “Ceritanya nanti saja. Mau sarapan apa?”
“Lemon tea dan roti bakar selai nanas.”, jawabnya.
Selama 30 menit, kami makan. Kami melakukan pembicaraan ringan tentang berbagai hal. Beliau sudah mulai terbiasa dengan saya.

Tepat pukul 08.45 WIB kami menuju rumahnya. Beliau mengajak saya bermain di rumahnya karena katanya cukup aman. Setelah 30 menit kami hampir sampai di rumahnya. Ketika tiba di jalan yang cukup sepi, mobil berhenti dan saya diminta pindah ke belakang dan bersembunyi di bawah. Lucu juga, pikirku. Dan ketika mobil sudah sampai di garasi, saya tidak segera diminta keluar, tetapi menunggu sebentar.
“Sekarang Mas! Mereka sudah kusuruh keluar untuk membeli sesuatu.”, ajaknya kemudian.
Dengan tergesa saya segera diminta masuk ke sebuah kamar.

Setelah menunggu 15 menit, Bu Linda masuk ke kamar.
Beliau mendekati saya dan berbisik ke telinga, “Mas Rudy, tolong jangan berisik! Nanti mereka bisa tahu.”
Saya menjawabnya dengan mengangguk. Ibu Linda segera melepas pakaiannya hingga bugil. Tubuh Bu Linda langsing dan kelihatan cukup kencang. Buah dadanya pun menantang ke depan. Tanpa berkata apapun beliau mendekati saya dan membuka satu per satu pakaian saya. Saya diminta terlentang di spring bed. Beliau langsung menikmati tubuh saya. Saya mengimbanginya. Saya kembali melakukan strategi-strategi saya seperti ketika bermain dengan yang lain. Namun saya menjumpai hal yang berbeda dengan “teman-teman” saya selama ini. Ibu Linda memposisikan sebagai pihak yang aktif namun melakukannya dengan “penuh penghayatan”. Beliau sedikitpun tidak terlihat agresif, hanya penekanan-penekanan yang sesekali saya rasakan ketika menjelang orgasme. Beliau juga melakukannya dengan berbagai variasi posisi. Kami melakukannya selama 2 jam nonstop, hanya diselingi “pengambilan nafas”. Permainan berakhir ketika saya “dipaksa” orgasme, setelah melewati fase “kosong”. Nampak sekali kepuasan pada wajah Bu Linda ketika beliau “istirahat”. Wajahnya terlihat tersenyum ceria, meski matanya terpejam. Beliau langsung tertidur dengan lelap. Saya pun mencoba tidur.

Sekitar pukul 13.00 WIB Bu Linda terbangun. Saya yang masih terlelap, langsung “dikerjain” lagi, saya pun bangun. Beliau pun mengulangi permainannya, meski hanya 30 menit. Beliau tidak langsung tidur sebagaimana tadi, namun bangun dan menuju kamar mandi. Saya diajaknya mandi bersama. Setelah selesai mandi, beliau keluar sebentar. Sebentar kemudian beliau datang sambil berbisik, “Ayo!” Aku mengikurinya menuju garasi dan masuk ke mobil.

Dengan “aman”, Bu Linda berhasil mengantarkan saya ke tempat yang saya minta. Kata beliau, para pembantunya lagi tidur siang. Tidur siang? Sebelum berpisah beliau menanyakan bagaimana beliau dapat menghubungi saya ketika membutuhkan. Kali ini saya memberinya nomor HP.

Ketika beliau sudah meninggalkan saya, kurogoh saku celana yang menebal. Saya dapatkan beberapa lembar uang seratur ribu rupiah dan secarik kertas yang bertuliskan: “MAAF, KALAU PEMBERIAN SAYA KURANG, SILAHKAN HUBUNGI SAYA, NANTI SAYA TAMBAH”. Kertas itu saya buang dan saya tidak menghubunginya untuk minta tambah karena saya bukan gigolo.

*****

Itulah kisah nyata saya yang baru saja saya alami bersama Ibu Linda (bukan nama yang sebenarnya) pada tanggal 31 Mei 2007.

Ibu Linda, meskipun Anda sudah muak dengan suami Anda dan tidak peduli lagi kalau saya membuka rahasia Anda, saya tidak akan melakukan hal itu. Percayalah. Tulisan ini pun saya tampilkan setelah meminta ijin kepada Anda. Saya menyarankan agar Anda tidak perlu mempromosikan saya kepada teman-teman Anda karena mereka akan mengetahui skandal kita. Kalau boleh saya memberi saran, perbaikilah hubungan Anda dengan suami Anda sehingga Anda tidak perlu melakukannya lagi dengan saya.

E N D

Cerita Dewasa – Pram Mantan Pacarku

Aku adalah seorang ibu rumah tangga berusia kurang lebih 30 tahun. Pernikahan kami telah berjalan kurang lebih 7 tahun dan mempunyai seorang anak yang sudah sekolah di playgroup. Suamiku adalah seorang pekerja di perusahaan swasta, karena kesibukan pekerjaannya dia biasa pergi pagi dan pulang malam. Walau begitu hubungan kami berjalan dengan baik.

Kami biasa terbuka dalam berbagai hal, termasuk masalah sex. Sayangnya karena pekerjaannya, staminanya di ranjang kurang bisa memuaskan keinginanku. Aku inginnya berhubungan sex tiap hari, sementara suamiku paling sanggup tiga hari sekali. Itupun setelah ejakulasi, dia tidak sanggup untuk menambah ronde. Satu hal yang dia suka bilang adalah keinginannya untuk melihatku berhubungan sex dengan laki-laki lain. Dan bahkan dia bilang kalau dia enggak perlu melihat langsung, asal setiap aku sudah berhubungan sex dengan laki-laki lain aku harus menceritakan detailnya dan dilakukan dengan sepengetahuan suamiku. Syarat lainnya adalah, bahwa aku menyukai laki-laki tsb, ganteng dan yang penting aku bisa menikmati hubungan sex-ku dengan laki-laki tersebut.

Perlu aku ceritakan, bahwa sebelum menikah dengan suamiku sekarang ini, aku hanya pernah mempunyai pacar sekali. Itupun kami hanya sebatas berpacaran, jangankan berhubungan sex, bahkan berciuman pun belum pernah. Meskipun pernah pacarku dulu itu memintaku untuk menciumku namun dengan halus aku menolaknya. Jadi bagiku suamiku adalah laki-laki pertama yang berhubungan sex denganku. Awalnya keinginan suamiku ini cuma sekedar ‘pillow-talk’ atau fantasi ketika kami melakukan pemanasan sebelum melakukan hubungan sex dengan suamiku. Sampai pada suatu hari.

Awalnya suatu pagi, seperti biasa setelah suamiku pergi ke kantor sekaligus mengantarku anakku pergi ke playgroup, aku pergi mandi. Karena biasanya pagi hari sebelum suami dan anakku pergi, aku menyelesaikan pekerjaan rutin rumah tangga dan menyiapkan sarapan. Ketika baru saja aku selesai mandi, dan masih mengenakan kimono handuk, tiba-tiba bel berbunyi. Dalam keadaan tubuh telanjang dan hanya ditutupi kimono, aku pergi untuk membuka pintu. Betapa kagetnya aku, ketika ternyata yang datang adalah Pram, mantan pacarku dulu.

Dalam keadaan gugup, bercampur senang aku tidak mampu berkata kecuali mempersilakan dia masuk dan lalu mengunci pintu. Aku bahkan lupa kalau aku cuma pake kimono. Tampangnya masih seperti dulu, kecuali bahwa kini dia tampak sedikit lebih gemuk dan lebih dewasa. Meski aku akui bahwa aku sangat menyayangi suamiku, kadang-kadang aku masih suka merindukan mantan pacarku ini. Dalam keadaan masih gugup, tiba-tiba Pram menggenggam tanganku dan bertanya tentang kabarku, aku hanya bisa menjawab lirih. Namun aku tidak bisa menyembunyikan binar mataku, melepas rinduku padanya. Tiba-tiba dia mendaratkan ciumannya ke pipiku dengan lembut, dia bilang dia sangat merindukanku. Sambil kemudian tangannya memelukku, dia bilang kalau dia tunggu dari pagi diatas mobilnya, dan begitu tahu kalau suamiku sudah pergi dia lalu pergi memencet bel rumahku.

Dalam pelukannya yang makin erat dia bilang, aku ingin menciummu. Sesuatu yang dari dulu ingin dia lakukan namun belum terlaksana. Dalam keadaan seperti itu aku hanya bisa memejamkan mataku dan bersiap menerima ciumannya. Lalu kurasakan bibir Pram dengan kumis tipisnya mulai menyentuh bibirku, dan aku lalu menyambut ciumannya dengan membuka mulutku. Masih dalam keadaan mata terpejam lidah Pram mulai menjelajahi mulutku dan aku membalasnya dengan penuh gairah kerinduan. Lalu perlahan kurasakan tangannya yang tadi mendekapku mulai mengelus bagian pantatku dari luar kimono.

Awalnya cuma remasan ringan namun kemudian dia mulai meremas dengan penuh berahi. Mendapat perlakuan demikian, nafasku makin tersengal dan ciumanku makin hot. Lalu tangan Pram mulai menelusup ke balik kimonoku dan meremas pantatku dengan mesranya. Aku makin terhanyut, dan sangat menikmati permainannya ketika akhirnya bibirnya mulai menjelajahi leherku lalu kemudian turun ke arah payudaraku. Perlahan tangan Pram mulai membuka kimonoku sampai akhirnya kimonoku terjatuh di lantai dan aku kini telanjang bulat. Ya, baru pertama kalinya kini tubuh telanjangku disaksikan oleh laki-laki lain selain suamiku. Namun birahiku sudah makin meninggi, sehingga tanganku pun mulai membuka kemeja Pram dan kuusap dadanya dan kadang kuelus puting Pram. Bibir Pram kini mulai mengisap payudaraku bergantian dan jari tangannya mulai memainkan vaginaku.

Aku kini sudah benar-benar enggak tahan dan meminta dia untuk memasukkan penisnya ke vaginaku yang kini sudah sangat basah. Lalu dia menggendong tubuh telanjangku ke kamar tidur, dimana aku biasa tidur dengan suamiku. Setelah meletakanku di ranjang Pram lalu membuka celananya sehingga kini dia pun telanjang. Aku agak sedikit kaget, ternya ukuran penis Pram lebih besar dari ukuran suamiku. Meskipun badannya lebih kecil dari suamiku. Pram lalu menghampiriku mencium bibirku lagi dan perlahan mencium seluruh badanku sampai akhirnya bibirnya mulai menyentuh vaginaku.

Betapa lembutnya, lidahnya mulai menjilati klitorisku dan terkadang dimasukannya ke lubang vaginaku. Vaginaku makin basah, tanganku pun mulai meraih penisnya, yang ternyata benar benar lebih besar dari milik suamiku. Sampai aku tidak tahan lagi dan memohon Pram untuk segera memasukkan penisnya ke vaginaku. Setelah membasahi kepala penisnya, Pram mulai mengarahkan penisnya ke arah vaginaku yang kini benar benar menginginkan untuk dimasuki penisnya yang besar itu. Agak susah awalnya, namun secara perlahan dan lembut penisnya kini masuk seluruhnya di vaginaku. Tak dapat kugambarkan betapa kini aku sangat terhanyut, vaginaku terasa penuh oleh penisnya dan gairah yang didorong kerinduanku. Sehingga tak lama aku merasakan orgasmeku makin dekat dan aku meminta Pram untuk menggerakkan penisnya dengan cepat. Sampai kemudian aku benar benar mencapai puncak dan memeluknya dengan erat. Melepaskan segala rindu dan hasrat.

Setelah orgasmeku mulai menurun Pram masih memelukku dengan erat, lalu mulai menggerakkan penisnya lagi dengan perlahan. Kira-kira lima belas menit berlalu namun ternyata Pram masih belum ejakulasi. Padahal biasanya suamiku paling tahan sekitar lima menitan. Lalu kemudian Pram membalikkan badanku, sehingga kini aku yang di atas dan dia di bawah. Aku lalu mengambil inisiatif dengan setengah berjongkok dan menggerakkan pantatku merasakan penisnya keluar masuk di vaginaku. Aku hampir mencapai orgasmeku yang kedua ketika tiba-tiba Pram bilang kalau dia hampir ejakulasi, dia lalu tanya apakah dia harus ejakulasi di luar, aku bilang di dalam saja karena toh aku sudah pasang KB. Lalu kemudian dia benar benar berejakulasi. Kurasakan spermanya menyemprot dengan keras. Sampai 5 kali dia menyemprotkan spermanya yang hangat di vaginaku lalu akhirnya diapun terkulai lemas. Aku hanya bisa memeluknya, merasakan kehangatan spermanya dan menikmati sisa sisa kekerasan penisnya yang mulai mengecil di vaginaku.

Tiba tiba aku dengar pintu garasi terbuka. Lalu cepat kusambar kimonoku. Aku pikir pasti suamiku yang datang, karena biasanya dia masuk melalui pintu garasi. Ternyata benar, suamiku yang datang. Dalam keadaan rambut acak-acakan dan sperma Pram yang menetes sampai ke pahaku, aku tanya kenapa dia pulang. Rupanya dia ketinggalan agenda kerjanya dan bermaksud mengambil kedalam. Tapi aku larang, dia bilang kenapa, lalu aku ceritakan singkat kalau di dalam ada Pram. Terus dia tanya kenapa rambutku acak-acakan, dipikirnya aku belum mandi.

Tadinya aku takut untuk berterus terang sampai kemudian dia bilang apakah aku baru making love sama Pram. Aku jawab ya, ternyata mendengar itu, suamiku jadi sangat terangsang. Lalu dia bilang boleh dia lihat. Lalu kubuka kimonoku, tampak vaginaku yang memerah dan sperma Pram yang masih menetes dari vaginaku. Lalu tanpa banyak bicara suamiku jongkok di hadapanku yang masih berdiri dan mulai menjilati cairan sperma yang menetes di pahaku, lalu jilatannya mulai beralih ke vaginaku dan menjilati sperma Pram sampai bersih. Setelah itu dia memintaku menungging, lalu suamiku menurunkan celananya sampai di mata kaki dan mulai memasukkan penisnya ke vaginaku yang masih dipenuhi sisa sperma Pram.

Vaginaku kini terasa longgar, karena baru dimasuki penis yang lebih besar dan masih penuh sisa sperma, namun tampaknya suamiku sudah sangat bernafsu, mungkin karena fantasinya kini jadi nyata. Sehingga tak lama dia pun langsung berejakulasi, menyebabkan vaginaku kini terisi oleh sperma dari dua laki-laki yang berbeda. Lalu dia kembali mengancingkan celananya, dan bilang untuk ambilkan agendanya. Lalu dia bilang kalau dia lagi buru-buru karena mau ada rapat di kantornya. Setelah suamiku pergi, aku pergi ke kamar mandi dan membersihkan vaginaku. Ketika aku kembali ke kamar, Pram bertanya siapa yang datang, lalu kujawab tadi orang yang minta iuran bulanan RT. Lalu aku hampiri Pram, lalu kukulum penisnya yang masih kecil. Perlahan penisnya mulai menegang kembali dan kamipun kembali making love sampai aku mengalami dua kali orgasme dan dia menumpahkan kembali spermanya di vaginaku.

Baik Pram maupun aku sangat terkesan dengan apa yang baru kami lakukan. Menjadi sangat istimewa karena baru saat inilah aku merasakan memekku dimasuki kontol selain milik suamiku dan sekaligus orang yang mengisinya adalah seseorang yang pernah punya kesan khusus di hatiku. Dengan berat hati aku bilang kalau sekarang dia harus pergi karena aku harus menjemput anakku. Sebelum pergi, Pram meninggalkan nomor handphone dan memintaku untuk menghubunginya setiap saat aku membutuhkannya. Aku kemudian mengantarnya sampai ke pintu depan dan dia meninggalkanku dengan ciuman lembut di pipi.

Malamnya ketika suamiku pulang, dan anakku sudah tidur suamiku minta aku menceritakan tentang apa yang aku lakukan dengan Pram tadi siang. Sambil berbaring berdua aku mulai bercerita. Sambil seksama mendengarkan tangannya menelusup ke balik rokku dan langsung menuju ke memekku (aku tidak pakai celana dalam). Lalu di bilang, wah memeknya masih bengkak nih. Lalu jarinya mulai mengusap itilku. Sambil terus bercerita aku usap puting susu suamiku sehingga suamiku makin terangsang mendengar ceritaku. Dia jadi tidak sabar dan membuka celananya lalu memasukkan kontolnya ke memekku.

Aku baru mulai menikmati gerakan kontolnya di memekku ketika tiba-tiba suamiku bilang kalau dia sudah mau ejakulasi. Aku bilang tahan dulu karena aku masih belum mau orgasme, namun apa daya suamiku tak mampu menahan dan akhirnya dia menyemprotkan spermanya di dalam memekku. Tak lama kontolnya mulai layu dan kemudian dia tertidur kecapean. Aku kini dalam posisi “menggantung” karena aku belum orgasme. Kemudian kucoba untuk melanjutkan dengan jalan memainkan jariku di memekku. Entah mengapa meskipun suamiku ada di sisiku, saat bermastrubasi yang justru aku bayangkan seolah-olah Pram yang kini sedang menyetubuhiku. Sambil membayangkan kejadian tadi siang aku terus memainkan memekku sampai kemudian aku orgasme. Namun kuakui rasanya tidak sehebat dengan apa yang aku rasakan tadi siang.

Besoknya perasaan menggantung itu masih ada. Dan seperti rutinitas biasa, setelah suami dan anakku pergi, aku kembali sendiri di rumah. Tiba-tiba keinginan untuk mengulangi apa yang kulakukan kemarin dengan Pram muncul dengan kuat. Aku hubungi nomor HP-nya dan menanyakan apakah ia bisa datang sekarang. Sayangnya dia bilang tidak bisa, karena ada yang harus dia kerjakan pagi ini. Lalu aku tanya gimana kalau malam. Dia balik tanya bagaimana dengan suamiku. Aku bilang kalau suamiku sebernarnya tahu apa yang kita lakukan kemarin dan dia menyetujuinya. Jadi aku pikir malam ini pun tidak apa-apa kalau dia datang. Tapi dia jawab dia masih merasa sungkan untuk ketemu dengan suamiku.

Akhirnya aku usulkan gimana kalau kita keluar sekalian makan malam, tapi aku mau bilang suamiku dulu. Dia bilang setuju karena malam ini dia punya banyak waktu. Katanya hari ini adalah hari terakhir dia berada di kotaku untuk pekerjaannya sebelum besok di kembali ke kotanya. Aku kemudian menelepon suamiku dan menceritakan rencanaku, suamiku bilang oke. Aku begitu bersemangat dan ingin mempersiapkan sesuatunya dengan baik. Aku lalu pergi ke kamar mandi, mencukur bulu memekku dan memakai lulur wangi sehingga nanti malam Pram benar-benar terkesan dengan penampilanku.

Malam hari jam delapan suamiku pulang. Anakku sudah tertidur setengah jam yang lalu karena siangnya dia bermain sehingga tidak tidur siang. Suamiku mendapatiku sudah berdandan rapi dan wangi. Dia kemudian ajak aku makan malam, namun aku bilang kalau aku mau makan malam diluar dengan Pram. Akhirnya dia makan malam sendiri. Aku lalu telepon Pram untuk datang menjemputku. Sebelum Pram datang suamiku memeluk dan menciumku, tangannya lalu merambah memekku, dia merasakan memekku yang licin karena pagi tadi baru dicukur. Sambil tersenyum dia bilang, wah persiapannya hebat sekali, katanya lagi dia jamin Pram pasti tidak akan merasa cukup menyetubuhiku cuma sekali. Sebelum aku pergi dengan Pram suamiku penasaran ingin menjilat memekku yang licin, lalu dia menyingkapkan rokku, membuka celana dalamku dan mulai menjilati memekku. Aku sedang menikmati jilatan lidahnya di memekku ketika kudengar suara klakson di depan. Kulihat melalui jendela, ternyata Pram yang datang. Lantas aku pamit sama suamiku, suamiku bilang celana dalamnya enggak usah dipake toh aku tidak akan membutuhkannya. Aku cuma tersipu mendengar ucapannya.

Aku keluar dan langsung menuju Pram yang masih dimobilnya. Sampai di dalam mobil Pram menyambutku dengan ciuman kecil di pipiku. Lalu dia tanya sekarang mau kemana. Aku cuma bilang terserah dia. Lantas Pram mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran. Turun dari mobil, Pram memeluk pinggangku sambil berjalan menuju restoran, serasa masa berpacaran kami dulu. Makan malam berlangsung dengan romantis, diselilngi dengan saling bercerita tentang masa kami berpacaran dulu. Dia bilang dia sangat berbahagia karena kini telah merasakan apa yang dulu sangat ingin rasakan namun belum pernah terlaksana. Dia menambahkan kalau sampai sekarang dia masih belum menikah. Dia bilang meskipun kini dia sudah punya tunangan, dia masih sering mengingatku dan karenanya benar-benar menikmati kebersamaan ini.

Selesai makan malam, Pram mengarahkan mobilnya ke luar kota. Menjelang di luar kota, di daerah yang sejuk kami lalu berbelok memasuki sebuah motel. Sebuah motel yang cukup luas dan asri. Mobil langsung menuju garasi yang terletak persis di bawah kamar motel. Seorang pelayan membukakan pintu garasi dan langsung menyodorkan formulir check-in. Setelah menandatangani formulir serta membayar tagihan awal, si pelayan kemudian menutup pintu garasi. Pram lalu mengajakku menaiki tangga menuju kamar motel di atas.

Kamar motel itu cukup luas, ada sebuah ranjang ukuran kingbed, seperangkat sofa dan TV set, serta kamar mandi yang dilengkapi bathtub. Pram rupanya sudah tidak sabar lagi, tanpa berkata dia langsung menarikku dan mencium bibirku dengan penuh gairah. Kusambut ciumannya dengan penuh gairah pula. Sambil menciumku tangan Pram dengan semangatnya meremas susuku. Aku kemudian membuka celana yang dia kenakan dan tak sabar aku dorong Pram ke arah ranjang. Dalam keadaan Pram yang terlentang kumasukkan kontol Pram ke mulutku dan mulai mengulumnya dengan semangat. Kumainkan kontolnya yang besar itu keluar masuk mulutku. Pram hanya bisa memejamkan matanya menikmati hisapanku. Tak lama Pram bilang kalau dia ingin menjilati memekku. Pram lantas mencopot seluruh pakaianku dan pakaiannya sendiri, sampai kami berdua kini telanjang bulat. Lalu dia kembali berbaring dan memintaku meletakkan pantatku di atas mukanya.

Maka dengan posisi 69 aku kembali mengulum kontol Pram sementara dia menjilat memek dan itilku. Kira kira setengah jam kami dalam posisi itu ketika kurasakan orgasmeku telah mendekat, sampai kemudian aku mencapai orgasme. Dengan mulut masih mengisap kontol Pram, kutekankan memekku dengan kuat ke muka Pram. Dia sendiri dengan kuat mengisap itilku sampai aku benar benar melayang. Beberapa saat setelah orgasmeku memudar, Pram lalu membaringkanku di ranjang, mulutnya kini mengisap puting susuku bergantian. Setelah puas mengisap dan mengulum susuku, kemudian dia naik ke atasku dan mengarahkan kontolnya di memekku. Dengan lembut dia mengusapkan kepala kontolnya di memekku. Memekku kini sudah sangat basah dan menginginkan kontolnya untuk segera dimasukkan ke memekku. Perlahan Pram menekan kontolnya ke lubang memekku. Meski memekku sudah basah, Pram agak kesulitan untuk memasukkan kontolnya. Dengan jariku, kubuka bibir memekku lebar-lebar, sampai kemudian seluruh kontolnya masuk di memekku. Dia mulai menggerakkan kontolnya keluar masuk memekku.

Setelah kira-kira 10 menit Pram mengentotku, tiba tiba aku merasakan kalau aku ingin pipis. Aku bilang kalau aku mau pipis dulu, Pram mencabut kontolnya dan lalu menuntunku ke kamar mandi. Di kamar mandi, Pram minta aku kencing sambil berdiri, lalu mulutnya kembali menjilati memekku. Dorongan untuk pipis sudah sangat mendesak dan aku sudah tidak tahan lagi. Dan air kencingku kini menyembur dengan deras. Tapi Pram malah terus menjilati memekku sehingga air kencingku mengenai wajahnya bertubi-tubi. Setelah selesai, Pram menyalakan shower dan mengajakku mandi bareng. Tangannya membalurkan sabun ke seluruh tubuhku, dan ketika giliranku menyabuninya ketika sampai di bagian kontolnya kukocok kontolnya sampai sambil tertawa dia bilang “sudah nanti aku keburu nyampe di luar”. Sambil terus bercanda Pram bilang sini aku sabuni bagian dalam memekku. Aku bilang gimana caranya? Lalu dia memintaku sedikit menungging, sambil masih berdiri dan kontolnya penuh sabun, dia lalu memasukkan kontolnya ke memekku. Dia bilang begini caranya menyabuni bagian dalam memekmu.

Lantas, dia mengisi bathtub lalu mengajak untuk meneruskan permainan cinta kami di bathtub. Pram lalu berbaring dan minta aku memasukkan kontolnya dengan posisiku di atas. Aku menggerakkan pantatku naik turun sampai air di bathtub bergelombang karena gerakan kami. Setelah kurang lebih setengah jam Pram lalu memintaku menungging di bathtub dan memasukkan kontolnya dari belakang. Dengan gerakan yang makin lama makin cepat aku kemudian mencapai orgasmeku yang kedua yang tak lama kemudian Pram pun mencapai ejakulasi. Pram menyemprotkan spermanya yang hangat di memekku.

Setelah mengeringkan badan, lalu kami berdua pergi ke ranjang dan sambil saling berpelukan kami tertidur bagaikan sepasang pengantin baru. Ketika terbangun kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Pram lalu kubangunkan karena aku harus pulang. Namun dia bilang dia masih mau menyetubuhiku sekali lagi sebelum pulang. Lalu dengan romantis Pram kembali mencumbuku untuk kemudian memasukkan kontolnya kembali di memekku. Akhirnya kami berdua mencapai orgasme, aku sengaja tidak membersihkan memekku karena aku tahu suamiku suka melihat memekku masih basah oleh sperma laki-laki lain yang baru bersetubuh denganku.

Kami sampai di rumah pukul setengah lima. Dan Pram meninggalkanku di pintu depan. Dia bilang dia akan mengusahakan untuk datang ke kotaku sesering mungkin. Ketika aku masuk kudapati suamiku masih lelap tertidur. Perlahan aku naik ke ranjang dan kudekatkan memekku di muka suamiku. Dari memekku, sperma Pram menetes keluar membasahi wajah suamiku, suamiku terbangun dan tersenyum melihatku. Lalu tanpa banyak omong dia langsung menjilati memekku yang sangat basah oleh sperma Pram. Setelah bersih, aku lalu memasukkan kontolnya ke memekku. Sambil bercinta, suamiku minta aku menceritakan kejadian tadi malam. Suamiku bilang gimana kalau kapan-kapan ajak Pram untuk bermain bertiga. Aku bilang nanti aku coba hubungi dia. Akhirnya suamiku pun kembali mencapai ejakulasinya dan menambah sperma di dalam memekku dengan miliknya, tercampur dengan sperma Pram.

Karena kesulitan untuk login di http://www.sumbercerita.com, baru kali inilah aku bisa mengirim lanjutan cerita. Bagi yang belum baca bagian 1 & 2, silakan baca di section “Tukar Pasangan” dengan judul yang sama.

*****

Atas permintaan suamiku aku menghubungi Pram melalui telepon, mengundangnya untuk datang ke rumah kami. Awalnya Pram agak segan untuk bertemu suamiku, namun aku berusaha meyakinkan bahwa suamiku sudah mengetahui semua yang kita lakukan dan dia malah menyetujuinya. Kutambahkan bahwa dengan demikian maka kesempatan kita untuk bertemu semakin besar karena bisa dilakukan kapan saja jika waktu dan kesempatan memungkinkan. Akhirnya Pram setuju dan akan meneleponku terlebih dahulu sebelum datang.

Selang beberapa minggu kemudian barulah aku menerima telepon dari Pram mengabarkan bahwa dia akan datang pada akhir minggu ini, bertepatan dengan long weekend (hari libur nasional yang berdempetan dengan hari minggu). Saat itu juga aku langsung menelepon suamiku yang masih di kantor tentang rencana Pram yang akan datang berkunjung. Suamiku lantas mengusulkan bagaimana jika kita sekalian berlibur keluar kota bersama, mumpung long weekend. Aku bilang aku sih setuju saja, asalkan Pram juga setuju. Suamiku bilang kalau dia akan booking kamar dari sekarang, soalnya kalau tidak, susah dapat hotel di saat long weekend.

Akhirnya, hari Sabtu yang ditunggu tiba. Pram datang sekitar jam 11 siang. Saat itu anakku masih di sekolahnya dan baru akan pulang sekitar jam 12-an, sementara suamiku masih di kantor. Aku langsung menyambut Pram dengan pelukan kangen dan Pram balas memelukku, lalu lantas mencium bibirku. Namun meskipun hasratku begitu menggebu untuk segera making love dengan Pram, aku harus menahan diri karena sebentar lagi anakku segera datang. Pram lalu kemudian pamit untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya selepas perjalanan jauh dari kotanya.

Aku sendiri kemudian menyiapkan makan siang untuk Pram dan keluargaku. Sekitar jam 12 anakku sampai di rumah. Aku lalu perkenalkan Pram sebagai teman ayahnya. Pram cepat akrab dengan anakku. Setengah jam kemudian suamiku datang dari kantor dan aku langsung mengajaknya ketemu Pram. Sebenarnya suamiku sempat mengenal Pram, itu dulu ketika aku masih pacaran sama Pram aku sebenarnya sudah mengenal suamiku sekarang ini, tapi saat itu hanya sebatas teman. Dan dalam satu kesempatan aku sempat mengenalkan Pram sebagai pacarku kepada suamiku. Tapi saat itu mereka hanya saling bertegur sapa dan tidak berkenalan lebih jauh.

Suamiku lantas menyapa Pram, yang kelihatan agak canggung. Namun kemudian aku mengajak mereka untuk bersama makan siang. Di meja makan suamiku aktif memulai pembicaraan, namun umumnya yang dibahas sekitar masalah bisnis dan politik secara umum. Setelah makan selesai, terlihat kekakuan sudah mulai mencair. Sementara aku membereskan meja makan, mereka berdua lalu melanjutkan obrolan mereka sambil merokok di beranda rumah. Kelihatannya mereka berdua sudah mulai akrab, kerena sesekali tawa lepas mereka terdengar. Belakangan aku tahu bahwa mereka membicarakan aku, tentang betapa hot-nya aku di ranjang.

Selepas pukul tujuh malam setelah kami selesai berkemas, kami berempat (termasuk anakku) dengan menggunakan sebuah mobil kijang pergi menuju ke sebuah tempat di luar kota, ke hotel yang telah kami book sebelumnya. Sengaja kami memilih waktu agak malam untuk menghindari macet yang biasanya terjadi di sore hari. Suamiku yang menyetir mobil, dan Pram di kursi depan. Aku dan anakku duduk di jok tengah. Setelah satu jam perjalanan anakku mulai tertidur mungkin karena siangnya dia tidak tidur maka dengan cepat ia terlelap.

Sementara itu obrolan diantara kami sudah mulai terhenti, mungkin karena kehabisan topik. Suamiku dengan penuh konsentrasi mengemudikan kendaraannya, dan Pram menatap lurus ke arah depan. Sementara itu aku mulai merasakan memekku gatal, karena menahan hasrat dari siang. Aku lalu berinisiatif mengulurkan tanganku ke depan dan memeluk Pram dari belakang. Pram awalnya merasa enggak enak dan melihat ke arah suamiku, seolah minta persetujuan. Suamiku tersenyum dan memberikan isyarat bahwa dia setuju. Pram lalu sedikit merebahkan kursinya dan aku lantas mencium bibirnya dari arah belakang. Dengan kepala tersandar aku mulai melumat bibir Pram dan dibalas Pram dengan mengulum lidahku.

Kedua tanganku menelusup ke balik kemeja Pram dan mulai mengusap kedua putingnya. Sementara itu Pram lantas melingkarkan kedua tangannya kebelakang dan meremas pantatku dengan erat. Tak lama tangan Pram menelusup ke balik rok dan mengelus pahaku dengan lembut. Perlahan tangannya bergerak semakin ke atas, kurasakan jari-jarinya menyibakkan tepian celana dalamku dan mulai menyentuh bibir memekku. Jarinya lalu memainkan klitorisku dan sesekali memasukkan jarinya ke lubang memekku yang sudah basah. Tanpa melepaskan ciuman, Pram terus memainkan jari-jarinya di memekku sampai satu saat aku merasakan kalau orgasmeku tak terbendung lagi. Sambil menahan suaraku, aku melumat bibir Pram sekeras mungkin dan mendekapkan kedua pahaku seolah tangannya jangan sampai terlepas dari memekku. Dan ketika orgasmeku mulai pudar nafasku sungguh tak beraturan. Ketika aku melirik ke arah suamiku, dia hanya tersenyum.

Beberapa saat kemudian masih dari arah belakang, aku membuka ikat pinggang Pram dan menelesupkan tanganku ke balik celananya. Kurasakan kontol Pram yang memang lebih besar dari punya suamiku menegang dengan keras sekali. Lalu dengan sedikit berjongkok dari arah belakang aku lalu mendekatkan bibirku ke arah kontol Pram. Aku lantas mulai mengulum kontol Pram. Sementara itu suamiku hanya bisa menyaksikan dari sudut matanya, karena ia harus mencurahkan konsentrasinya ke jalan. Setelah beberapa lama mengulum kontolnya dan menggerakannya keluar masuk mulutku, Pram berbisik kalau dia udah mau nyampe alias ejakulasi.

Aku lalu mempercepat gerakan kontolnya keluar masuk bibirku, lalu tak lama Pram mulai melenguh dan memuncratkan sperma-nya yang hangat di mulutku. Saking banyaknya, sebagian dari sperma Pram menetes membasahi pinggiran bibirku. Aku kemudian menelan sperma Pram. Suamiku tersenyum kepada kami berdua dan hanya bisa bilang wow. Aku lalu mencium bibir suamiku (dengan sisa-sisa sperma Pram yang masih menempel di bibirku) sambil berbisik aku bilang terima kasih.

Tak lama kami tiba di hotel tujuan kami. Rupanya suamiku memesan dua kamar yang dilengkapi connecting door, bersebelahan untuk memudahkan akses dari satu kamar ke yang lainnya. Sementara suamiku membereskan administrasi hotel aku dengan menggendong anakku yang masih tertidur naik ke lantai 3 bareng dengan Pram. Lalu aku masuk ke kamarku dan Pram ke kamar sebelahnya. Setelah menidurkan anakku di ranjang dan membereskan barang bawaan kami, aku lalu pergi ke kamar mandi dan mulai mengisi bathtub. Kemudian sambil berendam aku memainkan memekku. Meskipun di mobil aku sempat orgasme, rasanya memekku masih ingin merasakan dimasuki kontol.

Tak lama suamiku mengetok pintu kamar dan dengan hanya melilitkan handuk, aku membuka pintu. Rupanya suamiku sudah tidak tahan menyaksikan adegan yang tadi aku lakukan di mobil dengan Pram. Maka dengan bernafsu ia langsung mencium bibirku dan membuka bajunya. Lalu kami pergi ke bathtub. Suamiku berbaring di bathtub dan aku langsung menaiki badannya. Baik aku dan suamiku sudah sama-sama terangsang, sehingga tanpa pemanasan aku langsung memasukkan kontol suamiku ke memekku. Namun hanya beberapa goyangan pantatku suamiku langsung memuntahkan spermanya di dalam memekku. Aku sendiri merasakan orgasmeku makin jauh. Namun aku bisa memahami kondisi suamiku. Suamiku kemudian terkulai lemas di bathtub dan setelah membersihkan memekku aku bilang kalau aku mau ke kamar sebelah. Suamiku hanya menggangguk setuju.

Setelah mengeringkan badanku dengan handuk, aku kemudian memakai celana dalam tipis berenda berbentuk kupu-kupu yang memperlihatkan memekku secara berbayang, setelah itu aku mengenakan baju tidur satinku yang juga tipis dan memperlihatkan lekuk tubuhku tanpa bra. Kemudian melalui connecting door aku masuk ke kamar Pram. Kulihat Pram dengan hanya menggenakan celana pendek tanpa baju sedang berbaring di ranjang menonton televisi. Aku kemudian berdiri di depan televisi, menghalangi pandangan Pram ke televisi.

Pram tersenyum dengan mata yang tak berkedip menatap seluruh liku tubuhku. Dengan masih dalam posisi berdiri, aku pejamkan mataku dan mulai mengusap payudaraku dari luar pakaianku. Lalu tanganku bergerak keseluruh tubuhku, menelusuri halusnya kain satin yang aku kenakan. Perlahan tanganku mulai menyentuh memekku yang masih terbungkus pakaian. Lalu kemudian kurasakan tangan Pram memeluk tubuhku. Ketika kubuka mataku, kulihat Pram sudah duduk dipinggir ranjang dan mulai meremas kedua bongkahan pantatku. Lalu kemudian Pram menyenderkan kepalanya ke arah perutku. Perlahan tangannya bergerak ke atas dan membuka dasterku. Akhirnya dasterku terlepas meluncur ke bawah dan aku kini hanya mengenakan celana dalam kupu-kupuku.

Kedua tangan Pram kini meremas kedua payudaraku sementara mulutnya mencium perut dan pusarku. Sungguh sangat membuatku makin terangsang. Lalu Pram mulai mengulum puting payudaraku dan mengisapnya bergantian. Setelah beberapa lama dan memekku sudah terasa sangat basah, Pram lalu menurunkan ciumannya dari payudaraku, perlahan bergerak ke bawah, kearah perutku lalu ke arah selangkanganku dan menjilat bagian pinggir celana dalamku. Masih dalam posisi berdiri aku merasasemakin tidak tahan dan mulai meremas rambut Pram dengan gemas. Pram lalu menarik tubuhku, menelentangkanku di atas ranjang. Lalu kemudian perlahan dia membuka celana dalamku dan mulai menjilat klitoris dan memekku.

Kali ini aku tidak menahan suaraku lagi seperti waktu di mobil, dan tanparagu-ragu mulai mengeluarkan erangan seiring dengan kenikmatan yang makin kurasakan. Dan ketika kurasakan orgasmeku hampir mendekat aku tarik Pram sambil minta untuk memasukkan kontolnya sekarang juga. Lalu Pram membuka celananya dan lalu naik ke atas ranjang. Kini kontolnya yang besar sudah tegak mengacung, aku sungguh tak tahan untuk tidak mengulumnya walau sebentar. Setelah itu Pram mulai mengarahkan kontolnya ke memekku dan menggesekkan bibir luar memekku, dan dengan satu gerakan keras Pram langsung membenamkan seluruh kontolnya ke dalam memekku.

Karena memekku sudah sangat basah dan baru saja dimasuki kontol suamiku maka seketika kontol Pram langsung masuk. Sungguh suatu kenikmatan yang tak terhingga. Lalu dengan keras dan cepat Pram memompa menggerakkan kontolnya keluar masuk memekku. Dalam kenikmatan yang makin memuncak aku terus berkata, ayo Pram gerakin yang cepet, aku udah mau nyampe… Akhirnya orgasmeku tiba dan kulingkarkan kakiku ke pinggang Pram dan menguncinya dengan erat. Pram mengimbanginya dengan membenamkan kontolnya sedalam mungkin ke memekku. Lalu aku terkulai lemas dan mulai menata nafasku.

Pram ternyata belum sampai. Pram lalu mencabut kontolnya dari memekku dan memintaku berbaring telungkup. Aku lalu telungkup sambill memeluk bantal di kepalaku. Lalu Pram mencium rambutku, kemudian turun ke arah punggungku. Lidahnya bergerak menjilati punggungku yang basah oleh keringat. Lalu ketika tiba di kedua bongkahan pantatku, Pram dengan lembut menggigit dan mengisap buah pantatku dan meninggalkan bekas merah setelahnya. Lalu kemudian lidahnya turun ke sela pantatku, dan mulai menjilat anusku. Sesekali memasukkan ujung lidahnya ke dalam lubang anusku. Lalu kemudian menjilat garis memekku dari arah anus sampai klitorisku. Demikian berulang naik turun sampai kemudian gairahku menggebu lagu. Pram lalu memintaku menungging dan perlahan memasukkan kontolnya dari belakang.

Terus terang ini adalah gaya favoritku karena gesekan kontol bisa lebih terasa sampai menyentuh mulut rahimku. Biasanya suamiku tidak bisa tahan lama dengan gaya ini. Namun Pram sungguh lain, sebab sudah lebih setengah jam dia masih kuat menahan ejakulasinya. Sampai akhirnya dia bilang kalau dia udah mau sampai. Aku bilang ayo Pram gerakin yang cepet, dan minta supaya ejakulasi di dalam memekku. Aku sendiri tidak khawatir hamil karena aku ikut KB. Lalu Pram kemudian menggerakkan kontolnya makin cepat dan kemudian kurasakan semprotan spermanya yang hangat di memekku. Aku sendiri kemudian mencapai orgasmeku yang kedua pada saat yang hampir berbarengan. Setelah itu dengan mendekapku dari belakang dan dalam keadaan telanjang kami berdua tertidur.

Pagi hari antara sadar dan tidak kurasakan sesuatu yang geli di memekku, ketika kulihat ternyata Pram sedang menjilati memekku. Sekilas kulihat jam di meja sudah menunjukkan jam setengah lima pagi. Sambil tersenyum aku kembali memejamkan mataku dan mulai menikmati jilatan lidah Pram di memekku. Tanganku meremas kedua payudaraku mengimbangi kenikmatan di memekku. Lantas Pram bergerak ke atasku, melumat bibirku dan mulai memasukkan kontolnya kembali. Kali ini kami menikmati persetubuhan dengan pelan dan dengan bibir yang terus saling berciuman, suasana terasa lebih romantis. Justru karena suasana itu baik Pram maupun aku tak bisa menahan orgasme terlalu lama, sehingga kemudian Pram kembali menumpahkan spermanya di dalam memekku.

Setelah itu aku tak mau anakku terbangun dan mendapati ibunya tidur di kamar lain. Jadi aku cepat-cepat memakai dasterku tanpa mengenakan celana dalam aku kembali ke kamarku dan suamiku. Bunyi pintu rupanya membangunkan suamiku, ketika dia melihatku datang dia memberi isyarat untuk mendekat kepadanya. Lalu tanpa berkata apa-apa dia langsung menyibakan dasterku dan memintaku untuk duduk di atas wajahnya yang terlentang di kasur. Lalu kemudian dia mulai menjilati memekku yang masih basah oleh sperma Pram. Dengan bernafsu dia menjilati cairan memekku yang telah bercampur dengan sperma Pram yang menetes keluar dari memekku.

Setelah puas suamiku mengajakku ke kamar mandi dan memintaku menungging di wastafel. Lalu dia memasukkan kontolnya ke dalam memekku dan tak lama ikut mengisi memekku dengan spermanya tercampur dengan sperma Pram. Setelah suamiku kembali ke kasur, aku kemudian membersihkan memekku lalu menyusul suamiku di ranjang.

E N D

Cerita Dewasa – Fantasi yang Menjadi Kenyataan

Baru tiga bulan aku menikah dengan seorang gadis cantik keturunan Chinese bernama Tiara, panggilannya Rara. Aku sendiri pria keturunan Chinese bernama Reno, dengan tinggi badan 185 cm, atletis. Aku memimpin suatu perusahaan yang aku rintis sendiri bersama dengan kawan-kawanku dan lumayan sukses. Usiaku saat ini 28 tahun. Tiara adalah seorang gadis yang berwajah oriental dan cantik, yang berusia 25 tahun. Dengan kelembutannya, dan tinggi badan 170 cm, berat 47 kg, kulit putih mulus dan dada berukuran 34C, membuatnya sempurna untukku. Pernikahanku yang baru seumur jagung ini tentulah sangat dipenuhi oleh kemesraan dan kegembiraan yang nyata dalam kehidupan kami. Fasilitas rumah besar dan dua mobil mewah dari orang tua kami melengkapi semuanya itu.

Kehidupan sex kami juga cukup luar biasa, dimana hampir setiap malamnya (dan terkadang paginya) kami lalui dengan cumbuan, foreplay dan orgasme demi orgasme yang sangat memuaskan kami berdua. Tapi aku punya suatu fantasi yang agak keterlaluan sebetulnya; yaitu aku ingin menonton istriku yang cantik ini disetubuhi oleh lelaki lain yang dalam bayanganku adalah seseorang yang berusia muda, ganteng, tegap, dst. Aku ingin melihat istriku mengalami orgasme dan memberikan kepuasan kepada lelaki itu di hadapanku. Fantasi itulah yang biasanya selalu berhasil mengantarku ke orgasme yang hebat, baik pada saat aku sedang bersanggama dengan istriku, maupun pada saat aku sedang melakukan onani seorang diri.

Pernah kusampaikan kepada istriku pada saat kami sedang berhubungan seks di suatu malam, dan tampaknya fantasi itu juga memicu birahinya, terbukti dengan bertambah terangsangnya dia saat itu. Ceritanya begini.. Pada saat posisinya di atas, dan penisku berada di dalam vaginanya dan sedang seru-serunya dia bergoyang, kuremas lembut buah dada 34C-nya dan kukatakan dengan napas terengah-engah karena kurasakan orgasmeku hampir tiba dan vaginanya juga sudah mulai mencengkram batang penisku.

“Sayanghh, aku ingin melihatmu ngentot sama cowok lainhh.. aahh..”.

“Hmmhh? Emangnya boleh, say? Hmmhh?” Katanya sambil bergoyang dan memutar mutar pantatnya yang membuatku mendelik keenakan.

“Kalo boleh kamu mau? Ohh baby.. memek kamu ngejepit nihh. Ahh..” ujarku lagi sambil terus meremas dan mengelus putingnya yang sudah sangat tegang dan merah kecoklatan itu.

“Ahh.. tau ahh.. kamu ngaco ajahh.. ohh baby, kontol kamu udah makin keras. Gede banget, say. Oughh..”

“Aku pengen lihat kamu sepongin dia dan dia jilatin memek kamu.. Ouuhh yess.. terus sayangghh, puter terus pantat kamu.. aahh.”

“Terushh? aahh.. kamu nggak cemburu emangnya? Ahh.. oohh.. gila, kontol kamu enak banget sih, say?” Goyangannya makin hot dan seru, sedangkan vaginanya makin mencengkram keras batangku.

“Nggak, babe.. aku nggak cemburu.. oohh.. aku udah mau sampai nih.. aku pengen kamu dientot cowok lain sambil aku tontonin.. aahh baby.. aku keluarr.. aagghh..”

Maniku menyembur di dalam vaginanya dengan deras sambil tanganku mencengkram erat pinggulnya. Dan tampaknya hal itu dan fantasiku ikut memicu orgasmenya juga.

“Ohh yess.. oohh yess.. aku keluar juga, sayangghh.. aagghh..” Tubuh mulus istriku ambruk di atas tubuhku, matanya terpejam dan vagina berkedutan cukup lama juga, sambil kupeluk dan kuelus punggung dan pantatnya.

Beberapa saat setelah itu, dengan tubuh basah berkeringat, kami berciuman mesra. Hawa AC yang dingin merasuki tubuh kami. Dengan gayanya yang khas dan manja, Tiara menyusup kebalik selimut dan tidur di dadaku. Tangannya mengelus-elus dadaku dan aku mengelus rambutnya, meresapi apa yang baru saja kami nikmati bersama.

Tiba-tiba dia sedikit mengangkat tubuhnya dan memandangku dalam-dalam, lalu berkata, “Yang kamu bilang tadi beneran apa cuma lagi napsu doang sih, say?” Tangannya yang iseng menarik-narik jembutku yang kusut dan basah terkena cairan vaginanya campur keringat.

“Emm.. beneran dong. Kenapa?” Aku iseng juga dan kupencet hidungnya yang mancung. Dengan bercanda dia berontak dan pura-pura mau menggigit tanganku yang iseng tadi.

“Gila ih. Itu kan nyeleweng dong artinya? Kok kamu malah nganjurin aku buat nyeleweng?”

“Nyeleweng atau nggak itu sih terserah deh. Namanya juga fantasi. Boleh dong?” Aku menjawab sekenanya lalu beranjak bangun dari ranjang mau ke kamar mandi. “Udah, mandi dulu, yuk? Udah gitu kita bobo.” Dia kembali tiduran dan bengong memandangi langit-langit kamar.

*****

Besok paginya aku terbangun oleh ciuman di bibirku. Istriku tampak baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah dan tubuh hanya terbalut g-string putih.

“Jam berapa nih, kok udah keren?” kataku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

“Yee.. udah jam 6 lho. Ayo bangun, nanti telat ngantor. Sikat gigi gih. B-a-u deh mulutnya. Hihi.”

“Salah sendiri nyium. Pasti bau dong. Namanya juga fresh from the oven. Ngapain pake g-string segala?”

“Aku mau pake rok mini putih hadiah dari mami kamu. Itu rok rada tipis deh kayaknya. Kalo pada cel-dal biasa nanti jelek.”

“Apa boleh ngantor pake rok seksi macam gitu?” tanyaku polos.

“Nggak tau juga. Biar aja ah. Model-modelnya kan juga suka pake mini-minian begini. Aku nggak mau kalah ceritanya. Hahaha.” Rara bekerja di salah satu perusahaan advertising terkemuka di Jakarta, yang memang sering menggunakan jasa para model (amatir dan pro).

Aku nggak jawab lagi dan langsung lompat ke kamar mandi yang kebetulan ada di dalam kamar tidur kami. Iseng, kucolek buah dadanya yang masih telanjang dan selalu bikin mataku jelalatan dan penisku tegang, sambil tangan yang satunya lagi mengelus buah pantatnya.

“Idih, amit-amiit! Pelecehan seksual tuh, tau! katanya pura-pura marah, sambil nyentil penisku. Aku meringis kesakitan.

“Aduh.. atit ya, cayang?” katanya menyesal sambil mengelus penisku. “Sini aku sembuhin..” Sambil berkata begitu, dia melorotkan celanaku dan penisku yang memang tegang sejak bangun tadi, diremas dan dikulumnya sambil lidahnya berputar di kepala penisku.

“Oh my God..” aku kaget banget api seneng juga. Tapi baru beberapa isapan, dilepasnya lagi.

“Udah ah.. nanti dia GR. Kalo GR, dia suka pusing dan muntah lho!” katanya sambil mengedipkan matanya lucu.

Aku jadi gemas dan penasaran, tapi kulihat jam terus bergerak, dan aku ada janji ketemu seseorang untuk breakfast. Oleh karenanya kubiarkan dia lolos kali ini, dan terus bergegas mandi.

*****

Tepat aku lagi mulai meeting direksi di kantorku jam 2 siang, telepon genggamku berbunyi. Tiara meneleponku.

“Halo?”

“Hi, sayang.. lagi ngapain kamu?”

“Aku lagi meeting nih. What’s up, babe?” Para anggota direksiku saling lirik dan tersenyum.

“Pak Romi mesra banget ya? Maklum pengantin baru sih.” Pak Jerry, direktur operasiku bercanda sedikit. Aku cuekin saja.

“Sayang, nanti malem temenku Si Ayu ngajakin double date di Fountain Lounge Grand Hyatt.” Tiara menjawab renyah. “Mau ya? Pleasee..”

“Acara apaan sih? Ya OK lah. Dia mau traktir emangnya?”

“Tauk. OK ya, Jam sembilan kita ketemu mereka di sana. Have fun with the meeting, say. Bilangin direkturmu jangan iseng.”

“Iya, iya. See you, babe.” Kututup teleponku sambil melotot ke Pak Jerry yang tetap cengar-cengir.

Ayu ini sebenarnya adalah istri dari sahabatku, Sonny, yang adalah putra satu-satunya dari seorang pilot senior Garuda Indonesia yang sekarang menjabat sebagai direktur di salah-satu perusahaan penerbangan. Beliau ini masih keluarga keraton Solo, tapi sudah amat sangat liberal dan sudah nggak ada lagi tanda-tanda kekeratonannya. Apalagi Sang Sonny sendiri yang cuek luar biasa di dalam pergaulan dan topik pembicaraan. Kalau obrolan yang menyerempet soal seks, Sonny ini juaranya. Aku kenal dia sejak masih SMP di bilangan Menteng. Orangnya sangat ganteng dan berpenampilan macho. Perawakannya tidak jauh berbeda denganku, hanya dia lebih pendek sedikit saja. Ayu berperawakan rata-rata wanita Indonesia. Yang paling menarik darinya menurutku ialah bibir yang ranum dan matanya yang bulat cantik.

Sorenya kujemput istriku di kantornya di daerah Kuningan (kantorku sendiri di daerah Kebayoran Baru). Di perjalanan dia tertidur pulas sekali sambil merebahkan kepalanya di bahuku. Aku duduk sambil membaca majalah Times. Kulirik sopirku. Dia kelihatan mulai senewen dengan kemacetan Kuningan. Maklumlah hari Jumat sore. Sudah pasti rush hour gila-gilaan. Sopirku ini sudah menjadi sopir pribadiku sejak aku kelas 2 SMA. Aku sudah sangat akrab padanya. Dia adalah keponakan dari sopir papaku, usianya sekarang 34 tahun. Namanya Hermansyah, kusingkat Maman. Wajahnya cukup ganteng, tapi orangnya rada kecil untuk cowok. Tebakanku tingginya cuma 160 saja. Tapi badannya jadi. Maklum, dia kubuat jadi teman sparringku di kelas tinju dan fitness. Dia lulus SMA, ingin kuliah, tapi nggak ada biaya. Lalu jadilah dia sopirku.

“Santai aja, Man. Tapi kalo nabrak gue timpe lu. Mobil mahal nih.”

“Iye, bos (dari dulu manggil aku dengan “Bos”). Udah, ente tidur aja kayak Mbak Rara. Ane jagain mobilnye. Lagian kalo kagak mahal, bukan mobil ente dong. Hehehe”

“Nah lu tau tuh. Hehehe. Bisa aja lu, Man. Gue kasih bonus deh lu. Gaji lu gue potong 25%.”

“Waduh, bos. Apa kata bos aja dah. Ma kasih ye, bos!” Sambil ngomong gitu dia nengok ke belakang sambil matanya melirik ke paha istriku yang terbuka 1/2-nya akibat rok mini putih nan tipis itu. Kudiamkan saja.. penisku malah tegang. Aku rasa aku benar-benar punya kelainan seks.

*****

“Hei, Son!” aku sedikit berteriak ke arah sahabatku yang celingukan mencari-cari kami di Fountain Lounge.

Kulihat Ayu berpenampilan cukup seksi dengan gaun malam coklat muda panjang sampai ke tengah betisnya, tapi dengan belahan cukup dalam sampai ke tengah pahanya. Waktu duduk ia menyilangkan kakinya dan posisiku cukup jelas untuk melihat paha putih mulusnya yang sedikit tersingkap.

“Rom, mata lu juling banget lihat paha bini gue.” Sonny menyentakku. Sialan nih orang, pikirku.

“Ah, nggak.. gue kan dikasih lihat, bukannya ngelihat. Banyak bedanya lho.”

Kami pun berderai-derai tertawa. Kulirik istriku, Rara, hanya mesem-mesem aja. Mungkin gondok juga kali dia.

Rara juga terlihat seksi dengan celana hitam ketat dan baju hijau muda tanpa lengan yang berdada agak rendah. Ditambah sepatu hak tinggi hitamnya, dia kelihatan sangat sophisticated.

“Bini lu makin mengkilap aja nih, Ren. Ra, peju Si Reno cocok buat lu ya?” Sonny menyambar cepat.

Memang begitulah orangnya. Bicaranya kacau abis.

“Gila lu, Son. Kalo orang denger, dikirain elu mabok kali.” Rara menyahut kesal, tapi tetap bercanda, karena sudah tahu adat dan gayanya Sonny.

Kami pun minum-minum sambil ngobrol ke sana-kemari dengan serunya. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 11 pm. Aku bangkit pengen pipis.

“Gue ke toilet dulu ah. Birnya mulai bekerja nih,” kataku santai.

“Gue juga, man. Cewek-cewek tunggu di sini ya. Kalo ada yang nawar, kasih harga tinggi. Nanti Om Sonny yang atur persenannya buat you berdua. Hahahaha.”

“Mau pipis aja kok heboh sih kamu, Mas.” Intan berkata sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dan memandang suaminya, Sonny, dengan tatapan setengah tidak percaya. “Cepetan ya. Nanti ada yang nawar beneran, baru tahu rasa.”

Di toilet aku melirik Sonny yang sedang pipis di sebelahku, dan bilang, “Son, gue rasa gue punya kelainan seks. Gue punya fantasi pengen ngeliat bini gue digituin sama cowok laen. What do you think, man?”

“Yang bener lu? Hehehe, dari dulu gue udah rasa lu rada maniak. Tapi baru sekarang gue yakin. Ini fantasi dikala horny aja apa beneran?”

“Gue yakin ini beneran.”

“Sarap lu ye. Gue bantuin deh lu. Mau kagak?”

“Rara sama lu? Bisa-bisa gue impoten ntar abis ngeliat. Thanks but no thanks, bro. Hehehe. Kenapa? Lu horny ya ngeliat bini gue? Sama dong. Hahaha.”

“GR lu. Mau kagak? Gue banyak pesenan laen nih. Ini antara temen aja, free trial, gitu. Hahaha.”

“OK.”

“Hah? OK? Bener nih ya. Awas lu nyesel. Tapi bini gue gimana? Kagak boleh buat lu, setan. We’re not exchanging anything here, buddy.”

“Yah, terserah lu lah. Tapi gue pesen satu aja: pake kondom.”

“Off course, my man. You think I’m dumb?”

“Yes. Hehehe. Let’s go back out. Caranya gue serahin sama lu aja.”

“Sip. Let’s go.”

Sekembalinya kami dari toilet, kulihat para istri kami sedang asik ngobrol dengan tiga orang lelaki keturunan India. Ayu diapit oleh dua orang dan yang seorang lagi duduk di sebelah Rara. Dari gayanya, kami tahu bahwa India-India iseng itu mengira istri-istri kami adalah cewek-cewek gampangan. Tangan seorang yang duduk di sebelah Ayu malah sudah diletakkan di atas paha Ayu. Kulihat Ayu mencoba menepisnya, tapi tidak dengan sepenuh hati. Mungkin dia suka juga? Yang duduk di sebelah Rara masih agak sopan, dan hanya memeluk bahunya. Kulihat Rara agak menjauh sedikit dan melotot galak ke arah India gokil itu.

“Wow, dude.. bisa keduluan sama India-India bangsat itu nih, gue.” Sonny nyeletuk asal sambil bergegas ke arah Ayu dan Rara. Aku mengikutinya perlahan. Kupikir, the more, the merrier. Kulihat Sonny berbicara sesuatu dengan orang-orang itu, dan lalu mereka ngeloyor pergi sambil tertawa-tawa. Kedua istri kami pun ikut tertawa lebar.

“What’s up, Son?” tanyaku setelah duduk lagi, kali ini di sebelah Ayu.

“Nggak, gue bilangin aja kalo dua cewek ini udah kita sewa buat seminggu. Udah lunas, pula. And we’re sorry but we’re not sharing them with anybody.”

“Emang gila deh lu, Son.” Rara berkomentar sambil masih tertawa.

“Tapi suka kaann..” Sonny memandangi wajah Rara begitu dekatnya. Rara jadi rada kikuk, dan kulirik Ayu malah mesam-mesem doang.

“Idiihh.. apaan sih lu. Jauhan dong.. mulut lu bau. Jangan deket-deket muka gue. Reenn.. tolong dong. Temen kamu sinting nih. Minumnya cuma segelas, maboknya kayak minum sepetii.”

Tawa kami meledak mendengar ucapan Rara. Dan kira-kira pukul satu, kami memutuskan untuk pulang.

Sebelum pulang, Sonny sempat membisikiku, “Ren, besok siang gue ke rumah lu. We will start to realize your fantasy, man.” Penisku langsung tegang membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

*****

Pukul 11 siang bel rumahku berbunyi. Aku sedang menonton TV di kamarku. Rara mungkin sedang membantu Mbak Wani, salah seorang pembantu RT kami memasak makan siang kami. Aku mengintip dari kamarku yang di lantai dua yang kebetulan menghadap ke jalan dan ke pagar rumahku. Sonny sudah di depan muka rumah bersama Ayu membawa keranjang berisi jeruk dan pisang. Segera aku bergegas turun dan membukakan pintu utama rumah kami.

“Siang, bos. Wah, gue kirain elu belom mandi. Ternyata sudah keren. Makanannya udah ready nih?” Si Sonny nyerocos begitu melihatku di pintu muka.

“Ampirlah. Masuk yuk. Wah, bawa pisang nih.” Langsung kuambil keranjang buah itu dari tangan Ayu dan kucomot sebuah pisang yang langsung saja kumakan.

“Raa.. Mas Sonny dan Mbak Ayu udah dateengg.” Setengah berteriak aku memanggil istriku yang sedang masak di dapur.

Rara melongokkan dari arah dapur. Astaga! Ternyata dia masih memakai baju tidurnya yang berupa kaos you-can-see dan hot pants warna biru muda dengan kaki telanjang. Bodynya yang aduhai hanya tertutup sepertiganya saja kalau begini.

“Bentar ya, sodara-sodara. Aku masih masak nih. Yu, bantuin gue yuk! Cobain nih kurang apa.” Rara menyahut dengan semangat. Ayu langsung ngeloyor masuk dapur. Aku perhatikan Si Ayu memakai rok span warna merah darah dan kaos tanpa lengan warna kuning muda.

“So, what’s up, my brotha, what do you have in mind?” Aku langsung saja sambil mengedipkan mataku ke Sonny yang duduk bersamaku di ruang tamu.

“Just chill, bro. I told you I’ll handle it, I will handle it.” Sonny mengangguk yakin kepadaku.

Nggak lama kemudian..”Cowok-cowok, lunch is served.” Ayu memanggil kami di ruang tamu dengan gaya seorang chef kawakan dengan celemek dan serbet makan yang disampirkan di lengannya sambil setengah membungkuk.

“Nah, gitu dong. Although I’d rather eat you, love.” Sonny berkata begitu sembari beranjak bangun menuju ke ruang makan sambil mencubit pipi istrinya mesra. Aku meringis saja.

“Kalian makan duluan deh. Gue mau mandi dulu sebentaar aja.” Kata Rara sambil lari kecil naik tangga ke kamar kami.

“OK, ma’am. Tapi kita tungguin deh, asalkan beneran cuma sebentaar aja.” Sonny menggoda istriku. Istriku meresponnya dengan memeletkan lidahnya ke arah Sonny.

“Lu diam di sini dulu, ya. Nanti kira-kira lima menit, lu susul gue ke kamar lu. OK?” Sonny membisikiku. Ayu kebetulan sedang ngobrol dengan Mbak Wani dan tidak melihat ke arah kami.

“Hah? Sinting apa lu? Tapi whateverlah. OK.” Kataku perlahan.

Benar, kira-kira lima menit setelah Sonny naik ke kamarku, aku menyusulnya. Setibanya aku di depan pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.. wow.. kulihat Sonny sedang mengintip Rara yang sedang melucuti bajunya yang hanya dua lembar itu satu persatu.

“Goddamn, bini lu bodynya bikin gue geregetan aja.” Bisik Sonny.

“Eh, monyet, gue kagak pernah minta lu ngintip. Sial, lu.” Aku agak kesal juga, merasa dikerjai.

“Tenang, broer. Ini step by step. Let the pro do it. You, horny bastard, just shut up and sit tight.”

“Gue hajar lu. Kalo dia teriak, satu rumah denger, kita bisa cilaka, sompret.”

“Soon! Reenn! Mana sih kalian?!” kudengar Ayu berteriak memanggil dari bawah. Istriku juga pasti dengar, tapi cuek saja, lalu dengan bertelanjang bulat masuk ke dalam bath up, siap-siap mau mandi. Kami mashi terus mengintip.

“Lu turun dulu ke bawah, tenangin bini gue, OK?” bisik Sonny.

“OK.” Aku beranjak perlahan pergi. Nggak tau mau ngomong apa ke Ayu, tapi penisku sudah tegang abis, seperti mau pecah rasanya.

“Yu, Si Sonny lagi nonton basket di kamar gue. Seru juga sih, lagian Rara kan masih mandi. Lu mau nonton juga?” Aku yakin Ayu pasti nggak akan berminat, karena dia paling benci sama yang namanya pertandingan basket. Konyol, katanya.

“Nggak ah, gue di sini aja nonton TV di bawah. Buruan dong. Kan gue juga lapar nih.”

“Beres, manis.”

“Genit lu ya kalo nggak ada siapa-siapa.” Ayu menyahut sambil tersenyum manis. Aku nyengir aja, sambil lari lagi naik ke kamarku.

Sampai di sana, aku masuk dan kukunci kamarku perlahan.

“Gimana, Son?”

“Udah selesai mandi tuh. Wuih, gila, gue ngaceng berat nih, pren. Kagak nyesel nih lu?”

Aku diam saja. Nggak lama Rara keluar dari kamar mandi, seperti kebiasaanya, telanjang total hanya bercelana dalam saja. Rambutnya masih basah karena keramas.

“Aahh!” Rara menjerit kaget setengah mati melihat ada Sonny di situ. Dia mau lari lagi masuk ke kamar mandi, tapi tangan Sonny cepat menangkapnya. Rara meronta-ronta dan aku diam saja sambil menelan ludah.

“Tenang, sayang.. tenang.. gue di sini cuma mau bantuin lakilu memuaskan fantasinya.” Sonny berujar perlahan sambil tangannya tetap mencengkram tangan Rara.

“Ren, kamu bener-bener gila ya. Ini apa-apaan sih?” Rara marah sekali melihat ke arahku. Aku cuma membuang muka saja.

“OK, karena kamu benar-benar sinting, aku juga bisa sinting. Tapi jangan menyesal nanti.” Rara berkata begitu sambil memeluk Sonny dan mencium bibirnya walaupun masih agak ragu. Tangan mereka bergerilya kemana-mana. Buah dada Rara yang ranum menjadi target bibir dan lidah Sonny yang dengan bernapsu menjilat dan menyedotnya. Rara menggelinjang nikmat. “Mmhh.. Son.. remes dong Son.. pelan aja.. ahh..” Rara rupanya naik juga birahinya.

“Mmhh.. yeaahh..” Sonny mendongak terpejam saat Rara meremas penisnya dari balik celana jeansnya. “Buka aja, sayang..”

Aku sudah napsu berat, kukeluarkan penisku, dan mulai mengocoknya sambil masih berdiri. Kulihat Rara jongkok di depan Sonny, masih di depan pintu kamar mandi yang terbuka sambil mengeluarkan penisnya dari balik resleting dan mulai menyepongnya habis-habisan. Lidahnya bermain di kepala dan kedua buah pelir Sonny. Dikulum, dihisap, dijilat, you name it, she is doing it. Dia melakukannya sambil melirik Sonny dan aku bergantian.

“Isep, sayang.. yeaah, gitu.. uuhh.. bini lu hebat, man. Hebaatthh.. aahh.. jebol deh gue.. aarrghh!” Sambil berkata begitu, air mani Sonny tumpah di dalam mulut Rara yang langsung ditelannya. Melihat itu, aku nggak tahan lagi, dan air maniku pun langsung menyembur ke lantai. Lemas, aku terduduk di ranjang. Rara pun bangkit berdiri sambil memandang Sonny.

“Enak, Son? Hmm?” kata Rara setengah berbisik.

Sonny masih terpejam dan menganggukkan kepala sambil menelan ludahnya.

“Kalah deh Si Ayu. Sedotan lu gila banget, Ra. Ren, you’re a lucky motherfucker, you know?”

“I know, man. Thanks berat. Ini rahasia kita aja ya.” Sahutku santai.

“Yuk, turun. Nanti Ayu curigation, lagi. Ra, kamu turun dulu, say. Bilangan Ayu “Pertandingan basketnya” sudah ampir selesai. Nanti kita nyusul.”

“OK.” Rara bergegas berpakaian dan langsung turun. Aku sedikit lega karena sebagian fantasiku sudah terpuaskan.

“Reno, my man. If you need us to go any further than that, just ask, buddy. Hehehe.” Sonny ngomong gitu sambil membetulkan pakaiannya. Aku ngangguk saja, ikut berberes, dan membersihkan lantai yang terkena semburan maniku barusan.

*****

Seusai makan siang yang dipenuhi dengan canda dan obrolan seperti biasanya, kami bersantai di kebun belakang rumah kami sambil makan buah-buahan yang dibawa Sonny dan Ayu. Kami duduk di meja bundar yang ada di tengah-tengah kebun kami. Aku, Rara, Sonny, Ayu. Sonny melirik Rara yang pura-pura tidak melihatnya sambil terus ngobrol denganku dan Ayu.

Tiba-tiba Rara beranjak bangun.

“Mau pipis”, katanya.

Sambil berdiri begitu, sambil tangannya mengelus penis Sonny. Kurasa Ayu tidak memperhatikannya karena sibuk berkomentar tentang bunga-bunga yang kelihatan indah sekali sore itu. Sonny memandangiku sambil nyengir. Kukedipkan mataku kepadanya sambil meladeni ocehan Ayu. Sejam kemudian mereka pamit pulang.

*****

“Do you like it?” aku bertanya pada istriku sebelum tidur malam itu.

“Hmm? I think I do.” Rara membalas menjawab sambil memeluk dadaku dan merebahkan kepalanya di dadaku.

“Mau coba lebih lagi?” aku bertanya singkat.

“Terserah kamu, sayang.” Balasnya sambil mengelus penisku yang sudah berdiri.

“Idih, kok udah ngaceng sih ininya?” katanya lagi sambil merogoh kedalam celana tidurku yang komprang tanpa celana dalam.

Dia mulai mengelus-elus kepala penisku dan mulai mengocoknya perlahan.

“Ahh, baby.. I want you to fuck him.” Kataku dengan napsu yang sudah naik.

“I know, baby..” sambil berkata begitu, kepalanya menyusup kebalik selimut dan mengulum penisku.

“This is what I did to him. Tell me how you like it..” Kurasakan air maniku segera terkumpul akibat sedotan, jilatan dan kulumannya di penisku.

“Sayang, kamu bakalan bikin aku keluar nih.. telan ya.. mmhh.. oohh.” Gila, belum pernah aku keluar secepat itu. Kurang dari 2 menit saja! Istriku memang luar biasa tehnik oralnya. Maniku ditelannya.

“Baby, I need you to fuck me. Pleasee..” Rara menggelinjang sambil tangannya meremas toketnya sendiri dan lalu mengelus vaginanya yang sudah basah. Sejak kapan dia nggak pakai baju lagi?

“Aku nggak mau.. the next fuck you’ll get will be from Sonny, babe.” Aku berkata dengan kejam sambil membereskan celanaku dan tidur pulas.

*****

Dua hari kemudian, aku masih belum bersanggama dengan Rara. Malam harinya, sekitar pukul 7, Sonny menelponku saat aku baru selesai mandi.

“Ren, bini gue lagi ke Yogya, ada sodaranya yang meninggal. Gue udah cari alasan biar nggak ikut. So, I’ll have 2 days Off. What’s up?”

“Perfecto. Si Rara udah horny berat nih. Nggak gue masukkin udah dua hari. Lu dateng deh sekarang.”

“Say no more, buddy.” Sonny menutup teleponnya. Kira-kira setengah jam kemudian dia sudah sampai. Rara yang membukakan pintu.

Begitu melihat Rara, Sonny langsung memeluk dan mencium lehernya.

“Hello, doll. Miss me?” Ini orang cool juga, pikirku.

“Mmhh..” Rara menggelinjang senang. “A lot. You come for me, or what?”

“No, I come for my buddy. YOU will make me cum.” Sonny menyeringai.

“And I will make you cum with me.”

Sonny langsung menggandeng Rara ke kamar tidur kami. Aku mengikuti dari belakang.

“Strip for us. And masturbate, but stop when you are about to cum.” Sonny memerintah Rara sesampainya di kamar. Aku menyetel CD jazz yang lembut untuk menunjang suasana.

Rara melucuti pakaiannya satu persatu sambil meliuk-liukan tubuhnya yang sintal mulus itu. Mau tidak mau, kami berdua menelan ludah berkali-kali. Lalu setelah bugil total, ia membelakangi kami dan membungkuk. Dengan tersenyum ia menoleh ke arah kami dan menjilat jari tengah kanannya. Lalu dengan sensualnya ia mengelus sepanjang bibir vaginanya dan dengan perlahan memasukkan jari tersebut ke dalam vaginanya keluar masuk kira-kira lima kali.

“Ouhh.. it’s so wet, boys..” katanya seraya menjilat kembali jari itu.

“And it taste so yummy..” Kami kembali menelan ludah dengan tangan kami mengelus penis kami masing-masing.

Ia kemudian berbalik menghadap kami, dan berjalan menghampiri Sonny. Ia lalu berjongkok di antara selangkangan Sonny yang duduk di pinggir ranjang bersamaku menonton aksinya. Celana Sonny dibukanya dan penisnya dielus dan diremas lembut.

Kulihat kepala penis Sonny sudah sangat basah, dan makin basah karena sekarang Rara mulai menjilatinya.

“Ahh, Raa.. terus sayanghh..” Sonny menggelinjang nikmat dan aku mulai mengocok penisku perlahan.

“Enak, Son? Hmm? Mau diisep lagi kayak kemarin?” Rara dengan seksinya melirik ke arah Sonny.

“Yess.. please, babe.. suck my cock..”

Tidak perlu disuruh dua kali, Rara mengulangi aksinya. Tapi kali ini hanya sebentar saja. Mungkin dia takut Sonny keburu keluar lagi.

Tidak berapa lama kemudian, Rara menelentangkan tubuhnya di lantai kamar yang berlapis kayu sambil meremas-remas dadanya, dan tangan yang satunya bermain lincah di vaginanya. Kami ikut bertelanjang bulat sambil duduk di sebelah kanan dan kirinya.

Beberapa saat kemudian Rara mulai mengerang dan menggelinjang. Napasnya terengah-engah dan mukanya memerah. Pinggulnya terangkat-angkat dan membuat gerakan memutar perlahan. Remasan di dadanya mulai agak kasar. Puting susunya dipelintir olehnya sendiri, dan vaginanya mulai mengeluarkan cairan kental dan berbau khas. Dia sudah diambang orgasme. Sonny dengan sigap menangkap kedua tangannya dan langsung menindihnya.

Dengan satu hentakan, penisnya menyeruak ke dalam vagina istriku. Pinggul Sonny mulai bermain.

“Aahh.. aahh.. yess.. oouuhh..” Rara meracau nggak karuan.

Aku juga hampir pingsan karena napsuku. Tanganku mengocok penisku dengan cepat.

“Ohh.. Soonn.. kontol lu gede banget banget, sayang.. aahh.. ahh.. ahh.. gue mau sampe nih, Soonn.. oouugghh.. gue keluar, Soonn.. aarrgghh!” Rara menjerit-jerit merasakan nikmat yang menhantam seluruh sendinya.

“Ra.. di dalam apa di luar..” Shit.. aku baru sadar kalau Sonny lupa pakai kondom! “Di mana, Raa?” Sonny mempercepat goyangannya.

“Di luar, Son.. uuhh..” Rara udah lemas sehabis orgasme. “Wow.. anget banget, sayang..” ucap Rara lembut saat penis Sonny berkedutan di atas perut Rara yang putih dan rata. Tangan Rara cepat mengurut-urut penis Sonny yang sedang memuntahkan laharnya.

“Ooh fuucckk..” Sonny ambruk di atas tubuh istriku. Aku juga mempercepat kocokanku dan nggak lama..

“Baby, I’m coming..” aku terengah-engah mengarahkan penisku ke mulut Rara.

“Sini, sayang.. aku mau kamu punya..” Rara membuka mulutnya lebar dan kusemburkan maniku ke dalam mulutnya..

“Telen sayang.. yeaahh.. agghh!” Orgasmeku menghantamku dan penisku berkedutan di dalam mulut Rara. Dengan lembut Rara menjilati dan mengulum penisku.

Seluruh adegan itu memakan waktu hanya 1.5 jam saja. Sonny lalu pamit pulang segera.

“Thanks, Son.” Kataku waktu mengantarnya ke depan pintu. Rara sudah tertidur di kamar kelelahan.

“Anytime, buddy. Memek bini lu luar biasa.”

“Ayu punya gimana? Emangnya nggak seenak Rara?” ujarku iseng aja sebenarnya.

“Hehehe.. lu coba aja sendiri. My treat. Tapi itu kalau dia OK. Later, man. Let’s do lunch tomorrow.”

Aku tersenyum kecil dan menganggukan kepala.

*****

Besoknya aku makan siang bersama dengan Sonny di daerah Kemang. Sambil ngobrol ngalor ngidul, Sonny berkata, “Besok malam Ayu sampai di rumah. Still interested?”

“Well, gue sih OK banget kalo lu berdua OK juga. Rara gimana?” kataku pelan.

“Ajak aja besok. Gue punya rencana nih. Kita bisa nonton live show barangkali. Hahaha.”

Deg. Jantungku berhenti sejenak. Sonny memang gila, kayaknya. Tapi kegilaan yang mengasyikan.

“Are you serious? Gimana caranya? Mana mau mereka?”

“Serahin aja sama Om Sonny. Lu tau beres dan ngecret aja deh pokoknya. OK ya. Gue musti balik ke kantor nih. Masih ada urusan. See you tonite.”

“See you, bro.”

*****

Akhirnya malam yang kunantikan tiba juga. Sekitar pukul 9 aku dan Rara sudah sampai di rumah Sonny dan Ayu di Permata Hijau. Kukatakan pada Rara bahwa another fantasy is waiting. Dia excited sekali dan siap dengan busana yang sangat frontal memamerkan keseksian tubuhnya. Kaos hitam yang hanya berupa kemben seperut dan rok mini hitam ketat dari bahan kulit membalut tubuhnya. Sepatu hak tinggi hitam menghiasi sepasang kaki panjang mulusnya.

Ayu membukakan pintu rumahnya dengan pakaian yang tidak kalah seksinya. Rok sebetis dengan belahan di bagian belakang yang dalam ke tengah pahanya dan atasnya kemeja tipis longgar tanpa BH sehingga kami dengan jelas melihat putingnya yang tegak menantang.

“Come in,” katanya seraya tersenyum manis pada kami.

“Kita main strip poker malam ini. I heard you guys were having a grand time while I was gone. Curang! Kok nggak ngajak-ngajak sih?”

Kami cuma bengong saja mendengar penuturannya.

“Emangnya OK buat lu, Yu?” Tanyaku. Rara sudah merah padam wajahnya.

“Sure, sex is a sport. And I need to have some exercise. Hahaha.” Busyet, udah ketularan lakinya nih, pikirku.

Tanpa ragu-ragu, Ayu menggandeng Rara dan mencium pipinya yang masih kemerahan karena kaget campur malu.

“Come on, girl.. don’t be like that. What are best friends for? To fuck each other brains out!” tawanya berderai-derai disambut dengan tawa Sonny dari dalam rumah.

“Bisa aja lu, Yu..” Rara yang sudah santai kembali sekarang menyahut.

“Abis ini nih, Reno, gara-garanya.”

“Tapi suka kaan..” sekali lagi Sonny yang tiba-tiba sudah disamping Rara mendekatkan wajahnya ke wajah Rara.

“He-eh. Suka banget.” Rara berkata begitu sambil meremas penis Sonny.

“Kontol laki lu ini bikin gue kelojotan kemaren malem nih, Yu.”

“Kalo gitu kontol lakilu musti bikin gue kelojotan dong malem ini, biar satu sama.” Ayu berkata sambil melirik nakal padaku. Aku jadi tertawa kecil, namun penisku sudah tegang sekali rasanya.

“But first let’s have dinner!”

*****

“Mmhh.. Ren.. jilat terus itil gue.. aahh iyaa..” Ayu mendesah lembut ketika aku mulai menjilati kelentitnya yang sudah membesar di atas sofa living roomnya. Rara dan Sonny menonton sambil keduanya mengelus-elus sendiri tubuh mereka yang sudah telanjang bulat.

“God.. suck my clit, honey.. yess.. you’re gonna make me come.. oouuhh!” Jeritan lirih Ayu cukup keras. Untung saja para pembantu RT sudah di perintahkan untuk pergi keluar rumah malam ini. Jadi hanya tinggal kami berempat saja.

Kusodok-sodokan lidahku kedalam vagina Ayu yang sedang mengeluarkan cairan kenikmatannya. “Tell me what you want, babe.” Kataku sekenanya. Penisku sudah mulai mengeluarkan cairan dan terasa hangat.

“I want you to fuck me and make me cum.. do it now..” Ayu meracau sambil menggeleng-gelengkan kepalanya akibat terserang birahi yang bertubi-tubi.

Kulirik Rara dan Sonny yang sedang bergumul 69 di lantai di bawah sofa itu. Erangan dan rintihan mereka cukup membuatku dan Ayu semakin beringas. Segera kuposisikan penisku ke lubang kewanitaannya. Bless.. aahh.. hangat sekali di dalam sini. Ayu dengan ahlinya mengencangkan otot vaginanya saat aku mulai menggenjotnya. Setelah beberapa kali ayunan pantatku, aku rasakan maniku mulai membludak.

“Yu.. gue bisa nggak tahan kalo lu gituin terus memeknya.. oohh.. uuhh..” aku mulai merasakan denyutan di pangkal penisku.

“Hmmhh.. biarin.. gue juga udah dikit lagi sampai kok.. hh.. lepas di dalem aja.. gue lagi aman kok.. aarrghh!” Ayu menjerit keras karena tiba-tiba aku menggenjotnya keras berkali-kali.

“Shit.. Yu.. terima nih, sayang.. shiitt.. aahh.. aahh.. gilaa..” Aku ikut teriak karena orgasmeku datang secara tiba-tiba.

“Renn.. ohh.. I’m cumming, honey.. I’m cummiinngg.. iihh.. oohh..” Denyutan memeknya sangat terasa memijat penisku. Aku ambruk di atas tubuh Ayu dan kami berdua saling berpagutan French kissing dan kuhisap dan kujilati toketnya yang montok berkeringat.

“Hhmm.. udah dulu dong, Ren.. ntar gue naik lagi nih.” Kata Ayu lembut sambil menggelinjang geli.

“That’s the idea, babe.. lihat tuh Rara sama Sonny..” bisikku di telinganya sembari menggigit kecil kupingnya.

Rara dan Sonny masih saling menjilat dan menghisap dengan serunya dalam posisi 69. Tubuh Rara mulai bergetar, mengerang-erang, dan tangannya mengocok penis Sonny dengan cepat. Tiba-tiba, Sonny yang berada di bawah mendorong tubuh Rara ke samping.

“Stop dulu sayang.. hhuuhh.. stop..” Sonny berdiri perlahan-lahan.

“Kenapa, Son? Nggak enak ya? Ayo dong.. tadi gue udah ampir tuh.. aaduuhh.. jangan gini dong.. tega deh lu..” Rara merajuk bercampur birahi yang membuat kepalanya pusing.

“Hehehe.. you can cum, but Ayu is the one that will do it to both of us.” Deg. Jantungku berdegup kencang. Jadi ini maksudnya Si Sonny dengan live show.

Ayu tersenyum simpul mendengar itu.

“Ra, sekarang elu kangkangin muka gue. I’ll take you there, honey.” Ayu berkata dengan genitnya.

Rara yang sudah tidak sanggup lagi, diam sejenak, lalu mengangkangi wajah Ayu yang masih berkeringat.

“Aawwhh.. make me cum.. please make me cum.. ohh yeaasshh.. isep itil gue, sayang.. iyaahh gitu.. iyaahh..” Ayu menjerit-jerit kecil merasakan permainan lidah dan bibir Ayu di vaginanya.

Sementara itu Sonny kulihat memposisikan penisnya di vagina Ayu yang masih melelehkan air maniku.

“Aahh yess.. enak, Masshh.” Ayu mulai merasakan genjotan suaminya.

“Honey.. I’m cumming.. oohh..” Rara mengerang dan mendesah panjang saat orgasmenya datang. Pinggulnya begoyang maju-mundur menggosokkan vagina dan kelentitnya ke bibir Ayu yang siap menyedot-nyedot cairan vagina Rara yang mengalir deras. Tubuh Rara yang basah berkeringat bergetar hebat dan tangannya meremas keras buah dadanya yang bergelayut manja.

Kulihat paha Sonny mulai bergetar hebat dan ia memeluk tubuh Rara dari belakang sambil terus menghentak-hentakan penisnya ke vagina istrinya. Suara becek berkecipak di dalam vagina Ayu seksi sekali.

“Oohh.. fuckin’ fuck.. aku keluar, sayaanghh..” Sonny memuntahkan lahar panasnya yang pasti bercampur dengan milikku di dalam vagina Ayu. Tubuh Sonny berkelojotan dan tangannya meremasi buah dada Rara yang masih menikmati orgasme dashyatnya mengangkangi wajah Ayu.

“Yess.. anget sekali punya kamu, Masshh.. hheehh..” Ayu memejamkan matanya menikmati sensasi yang luar biasa. Bibirnya belepotan cairan Rara dan vaginanya berlelehan air maniku dan suaminya. Aku terhenyak lemas di bawah sofa dengan penis terkulai lemas dan perasaan sangat puas.

*****

Keesokkan paginya di rumah kami, aku terbangun mendapati Rara yang tengah memeluku dari belakang. Kubalikan tubuhku, dan kulihat ada senyuman lembut di wajahnya.

“Ra, baby?”

“Hmm? Udah bangun, sayang?” istriku menjawab lembut.

“Are you happy?” tanyaku tulus.

“Very. Sini, bobo lagi.. aku pengen dipeluk terus sama kamu. I love you so much, sayang.”

E N D

Cerita Dewasa – Percaturan Birahi Istriku

Seperti halnya umumnya orang lain, setelah selesai Kuliah kemudian cari kerja dan nikah. Demikian pula dengan kehidupan yang kujalani, sejak setamat dari SLTA di Kotaku di Jawa Tengah, aku melanjutkan Kuliah di Bandung di suatu Universitas ternama. Tahun 1994 adalah tahun kelulusanku dan di tahun itu pula aku diterima di suatu Perusahaan BUMN setelah melalui penyaringan beberapa kali dan sangat ketat. Kehidupan ini kujalani seolah tanpa hambatan, lancar-lancar saja, tidak seperti yang kebanyakan orang bilang bahwa kehidupan ini penuh perjuangan dan sulit untuk mencari kerja. Hal ini pernah aku syukuri bahwa ternyata aku diberikan banyak kemudahan-kemudahan oleh Tuhan didalam mengarungi kehidupan dijaman serba sulit ini.

Karena telah merasa cukup dan sedikit mempunyai kemampuan untuk membina Rumah Tangga maka pada tahun 1995 aku beranikan diri untuk melamar dan melakukan kesepakatan untuk menikah dengan seorang gadis Cantik idamanku yang sejak semester awal kuliah aku mengenalnya dan sejak saat itu pula aku bersepakat untuk pacaran. Sebut saja namanya Erna, gadis asal Jawa Barat dengan kulit putih mulus yang sangat terawat dengan rambut hitam kelam yang lebat. Hal ini sangatlah wajar karena ditunjang dengan kemampuan materi Orang Tuanya yang sebagai pengusaha. Perbedaan usia hanya satu tahun antara aku dan Erna yang sekarang sudah menjadi istriku, aku lebih tua dan kini usiaku 36 tahun.

Banyak teman-temanku bilang bahwa aku adalah laki-laki yang sangat beruntung bisa beristrikan seorang wanita seperti Erna istriku. Disamping orangnya baik, supel, cantik, padat berisi, kaya lagi. Bulu-bulu halus tumbuh agak lebat dilengannya yang sangat mulus. Pernah seorang teman bilang bahwa “dijalan raya saja banyak kendaraan apalagi diterminal”. Hal itu memang suatu kenyataan dan merupakan gaya tarik yang sangat luar biasa yang bisa menimbulkan birahi yang menggebu-gebu bila melihat istriku Erna telah melepaskan semua pakaian yang menutupinya, dengan kulit yang putih mulus dan bulu-bulu hitam lebat diantara pangkal kedua belah pahanya yang sangat kontras, sungguh hal ini yang membuat aku semakin tak tahan untuk berpisah lama-lama dengan istriku. Tinggi badan istriku 167 cm dan beratnya saat ini sekitar 53 kg.

Kehidupan rumah tanggaku telah kujalani dengan penuh kebahagiaan selama kurang lebih delapan tahun, apalagi pada tahun ketiga pernikahanku telah lahir seorang anak laki-laki yang tumbuh dengan sehat dan lucu yang kini telah berusia 5 tahun. Ditambah lagi pada tahun ke-enam pernikahan, kami pindah ke rumah yang kami beli dari hasil jerih payahku sendiri selama ini walau hanya merupakan rumah KPR bertype 45. Kalau dibandingkan dengan rumah mertua sangatlah tidak seimbang dan istriku sangat menyukainya karena segala sesuatunya dialah yang mengaturnya tanpa harus campur tangan orang lain seperti sebelumnya yaitu di rumah orang tuanya.

Dirumah kami inilah awal dari segala perubahan kehidupan yang aku rasakan sangat bahagia menjadi suatu siksaan dan tekanan bathin yang menimpa diriku hingga kini. Awalnya setelah hampir setahun tinggal dirumah sendiri, istriku berangsur-ansur sudah mempunyai kebebasan, keleluasaan termasuk untuk menyampaikan uneg-unegnya yang selama ini terpendam, yang aku sendiri sebagai suami telah disadarkan bahwa ternyata didalam kehidupan sexual istriku masih banyak ketidak puasan atas sikap dan kemampuanku sebagai seorang suami selama ini. Memang selama ini aku didalam melakukan hubungan senggama tidak bisa bertahan lama, paling lama mungkin hanya 20 menit itupun kalau aku dalam kondisi fit.

Walau sebelumnya sudah melakukan pemanasan dan aku sering melihat, merasakan bahwa memek istriku sudah basah pertanda adanya rangsangan. Tragisnya bila pemanasan dilakukan terlalu lama maka semakin aku tak tahan untuk berlama-lama. Aku telah berusaha berkali-kali untuk pengaturan waktu agar terjadi kelambatan dan penundaan dalam penyemprotan (ejakulasi), semua itu pasti mengalami kegagalan. Yang aku rasakan bila sedang berhadapan dengan istriku dalam melakukan senggama adalah gairahku yang menggebu dan kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara bila penisku telah kumasukan dalam memeknya, dan berikutnya aku slalu tidak bisa mengendalikan diri lagi sehingga dalam tempo yang singkat pertahananku pasti tak terbendung lagi. Perlu diketahui bahwa sejak pernikahan hingga kini hampir tiada perubahan atas alat kewanitaan istriku, selalu terasa sempit dan nikmat. Hal ini dimungkinkan karena pada saat melahirkan anakku satu-satunya dengan cara Caesar sehingga secara phisik tidak banyak perubahan.

Aku telah berusaha untuk mengkonsumsi obat-obatan dan sering pula untuk konsultasi ke dokter tetapi hasilnya belum juga adanya hasil dan perubahan yang diharapkan atas daya tahanku. Pada awal-awal pernikahan dulu, aku bisa melakukan senggama berulang-ulang hingga 4 atau 5 ronde dalam semalam dan itupun umumnya yang ke 4 atau ke 5 yang mempunyai daya tahan dan dapat mengimbangi kemauan istriku. Tapi saat ini dua rondepun sangat sulit aku lakukan, biasanya bila telah mengeluarkan sperma, badanku terasa lunglai dan ngantuk yang amat sangat. Mungkin hal ini akibat berat badanku yang sudah tidak seimbang lagi dengan tinggi badanku dimana perutku sudah membuncit dan sama sekali tidak atletis. Tinggiku 170 cm dan beratku 83 kg.
Sejak masa SLTP aku mempunyai kegemaran atau hobby yang hingga kini masih sering aku lakukan.

Kegemaran tersebut adalah bermain Catur. Kegemaran ini sering aku lakukan dengan orang-orang atau teman pada saat-saat senggang dan sudah merupakan rutinitas hingga kini yaitu pada setiap Jumat malam aku bermain catur dengan seorang tetanggaku yang bernama Usman. Kadang Sabtu malampun bila sama-sama tidak mempunyai acara lain yang lebih penting kami asyik bermain Catur hingga kami betul-betul sudah capek dan suntuk. Sabtu dan minggu kebetulan sama-sama merupakan hari libur buat kami berdua. Dia kami kenal sejak pindah di perumahan yang kami tinggali saat ini dan Usman ini walau sudah bekerja, mempunyai rumah sendiri dan berusia mendekati angka 33 belum juga menikah. Orangnya tampan dan mempunyai tinggi tidak beda jauh dengan diriku, hanya saja badannya lebih atletis. Disamping mempunyai kegemaran bermain Catur, dia juga mempunyai jadwal rutin untuk bermain tennis. Usman inilah yang akhirnya semakin membuat bathinku menjadi tertekan dan tak berkutik untuk menghadapai gelombang percaturan cinta istriku hingga kini.

Dengan media papan catur ini, hubungan antara keluargaku dengan Usman menjadi akrab dan dekat. Kedekatan yang masih dalam batas wajar-wajar saja, begitupun hubungan antara istriku Erna dengan Usman, masih dalam etika kewajaran tanpa ada sesuatu yang perlu dicurigai. Sudah menjadi kebiasaan istriku, bila kami sedang bermain catur dan anakku sudah lelap tidur, istriku ikut juga menemani sambil memberikan dukungan untuk menyediakan secangkir kopi dan aneka camilan. Karena sudah terbiasa dan akrab, dalam menemani kami bermain catur, istrikupun dalam berpakaian juga biasa saja yaitu kadang pakai celana pendek ataupun baju tidur dan biasanya istriku hanya mampu menemani hingga jam 12 malam yang selanjutnya berpamitan untuk tidur lebih dulu. Permainan catur ini kami lakukan diruang keluarga dengan ber-alaskan karpet dan kadang dalam menemani kami, istriku menggelar kasur lipat sambil nonton TV.

Aku pernah beberapa kali melihat mata Usman mencuri-curi pandang pada bagian-bagian tubuh indah istriku pada saat menemani kami bermain catur ataupun pada saat istriku sedang tiduran dikasur lipat tapi semua itu aku abaikan. Dan pernah aku rasakan permainan catur Usman sangat tidak bagus dan kurang kosentrasi, dan setelah aku cari tahu penyebabnya ternyata aku melihat bahwa matanya sering terarah ke paha mulus istriku yang saat itu duduk disebelahku. Inipun aku abaikan bahkan aku merasa bangga mempunyai istri yang memang penuh dengan kekaguman. Tapi suatu Jum”at malam kira-kira enam bulan yang lalu, pada saat permainan catur baru beberapa babak, aku merasakan kantuk yang amat sangat setelah minum kopi yang disediakan istriku dan hal ini kusampaikan pada istriku yang saat itu menemani kami.
“Ma.. Papa kok ngantuk berat yaa..”
“Masak sih.. Papa khan udah minum kopi? Masak masih ngantuk juga..”

Dan berikutnya aku nggak bisa tahan lagi, aku terlelap dan tak ingat apa-apa lagi. Apakah Usman langsung pamitan pulang, akupun tak tahu. Yang aku tahu pagi-pagi aku bangun dalam posisi ditempat tidurku dalam kondisi badan yang sangat segar.
Jum”at malam berikutnya berjalan biasa saja, permainan caturku dengan Usman berakhir hingg jam 3 pagi dan Usman berpamitan untuk pulang. Begitu juga dengan Jum”at malam selanjutnya tanpa ada rasa kantuk tapi Sabtu malam kami bermain catur lagi karena sama-sama tidak mempunyai acara masing-masing dan rasa kantuk menyerang aku lagi sekitar jam masih menunjukan pkl 10.15 malam. Kali ini aku pamitan untuk tidur dan Usman kuanjurkan untuk pulang. Pada saat masih tersisa kesadaran sebelum terlelap, aku sempat istriku berbicara sama seseorang sesaat setelah mengantarku ke kamar tidur dan kejadian selanjutnya aku tak tahu apa-apa.

Timbul tanda-tanya dan curiga pada diriku, kenapa rasa kantuk begitu tiba-tiba, dan akhirnya aku sempat curiga telah terjadi sesuatu pada istriku apalagi akhir-akhir ini tampilannya tambah seksi dan merias diri. Aku tidak mau sembrono dengan semua ini dan aku tidak mau menyakiti istriku atas kekeliruan akibat kesalah dugaanku yang tanpa bukti. Maka pada saat menjelang tiba jadwal catur rutinku dengan Usman, aku mempersiapkan diri mengatur strategi agar semua apa yang ada dibalik kecurigaanku bisa terjawabkan. Sekitar jam 7 malam, aku telah mengkonsumsi (minum) obat anti kantuk. Hal ini aku lakukan karena aku telah curiga bahwa didalam minuman kopi yang disediakan istriku telah dicampuri obat tidur.

Permainan catur dimulai sekitar jam 19.30, semua berjalan seperti biasanya. Istriku menemani dengan tampilan terkesan sangat ceria. Kopipun aku minum seperti biasanya tapi hanya seperempat gelas saja. Sekitar jam 10.00 malam, aku merasa sedikit kantuk, dan sesuai strategi dan rencana, aku pura-pura ngantuk sekali dan selanjutnya aku pura-pura tak tahan lagi sehingga istriku memapahku ketempat tidur. Beberapa saat kemudian, sayup-sayup terdengar istriku melakukan dialog dengan seseorang dan dengan perlahan-lahan aku intip dari lubang kunci, ternyata istriku sedang duduk berhadap-hadapan diantara papan catur dengan Usman. Mereka seolah-olah lagi bermain catur.

Beberapa menit kemudian istriku beranjak menuju kekamar tidurku dan buru-buru aku segera memposisikan diri seolah tertidur lelap. Istriku menggoyang-goyangku seolah mau membangunkanku.
“Pa.. Pa.. gimana nih caturnya? Mau dilanjutin?”
Aku diam seolah pulas sekali dan istriku keluar kamar yang sebelumnya menyelimutiku dan menghidupkan lampu tidur dikamarku.
Sekitar dua menit kemudian, aku mencoba mengintip lagi dari lubang kunci, ternyata papan catur telah ditinggalkan begitu saja. Diantara kerasnya suara TV, aku masih sedikit mendengar bahwa istriku telah melakukan aktifitas, apa itu, akupun belum tahu.

Kemudian aku ambil kursi rias yang ada dikamarku secara perlahan dan kutaruh dekat pintu. Dengan harapan aku bisa melihat aktifitas istriku melalui ventilasi diatas pintu kamarku. Betapa terkejutnya aku, ternyata istriku sedang berpagutan mesra diatas kasur lipat dengan Usman. Badanku secara mendadak menggigil dan mengeluarkan keringat dingin. Aku bingung dan serba salah, apa yang harus aku lakukan, aku tak tahu. Sejenak aku ingin membuka pintu dan menghentikan tindakan pengkianatan yang dilakukan istriku dan Usman, tapi keberanian itu menjadi padam begitu aku teringat bahwa istriku sering mengeluh atas ketidak mampuanku untuk bertahan lama dalam senggama. Aku bingung dan kulihat lagi mereka yang ternyata tangan kanan Usman telah menyelinap didalam celana pendek istriku.. Och.. semakin aku tak mampu berbuat apa-apa. Sekilas sempat aku berpikir mungkin perbuatan mereka kali ini bukan yang pertama kali dan semakin aku yakin bahwa selama ini istriku telah sengaja memasukan obat tidur pada kopiku sehingga mereka leluasa untuk bermain catur birahi dan dengan demikian maka tetangga yang lain tak akan pernah curiga.

Usman dengan semangatnya melahap bergantian kedua puting susu dihadapannya dan tangannya telah berhasil memelorotkan celana pendek istriku. Aku hanya termangu menyaksikan aksi mereka berdua yang nampak saling semangat dan saling menyerang. Jantungku semakin berdebar. Sesaat kemudian mereka berdiri sambil melepaskan pakaian masing-masing, sesaat kemudian baik istriku dan Usman telah telanjang bulat. Kontol Usman telah berdiri kencang dan tegak, diameternya tidak beda jauh dengan punyaku tapi panjangnya mungkin sedikit lebih panjang punya Usman.

Istriku dipepetkan ditembok, mereka saling berciuman dengan ganas sekali, tangan kanan istriku meremas-remas kontol Usman dan tangan kanan Usman menggesek-nggesek memek istriku. Terlihat istriku tidak sabaran, kontolnya Usman diarahkan ke memeknya dengan sedikit kaki kiri istriku diangkat Usman maka masuklah senjata Usman pada memeknya, terlihat istriku memejamkan mata.
“Oooch.. kocok Dik Usman.. kocok..”
Dengan gerakan naik turun, Usman mengocok berulang-ulang dan badan mereka berdua semakin mengkilap karena keringat.
“Cek.. cek.. pleek.. plek.. ceck..”
Sesaat kemudian kocokan Usman berhenti
“Mbak Erna.. enak sekali memeknya.. terasa kenyuut-kenyuut..”
“Kontolmu juga Dik Usman.. gagah perkasa..”
Kemudian gantian kaki kanan istriku diangkat dengan tangan kiri Usman dan kocokan dilanjutkan lagi.
“Och.. ooch.. enak Dik.. teeruuss.. kocok teruuss..”
“Mbak.. aku mau keluar Mbak..”
“Jangan dulu Dik Usman.. jangaann.. akuu masih pingiinn lama-lama Dik”
“Nggak tahaann Mbaak.. aku nggaak tahan.. uenaakk Mbakk..”
Terlihat Usman menghentikan kocokannya dan semakin menekan dalam-dalam kontolnya dalam memek istriku..
“Ma’af Mbak.. aku nggak tahaann.. ma’aaf.. oocchh.. oocchh..”
Istriku memeluk erat-erat tubuh Usman seolah nggak mau dilepas seterusnya..
“Kenapa buru-buru dikeluarin Dik.., aku belum dapet lho..”
“Sabar Mbak.. betul-betul aku nggak tahaann.. wuennaakk buuanget.. memek Mbak hangett sekali dan waouw.. suereett Mbaak..”
Sesaat kemudian terlihat kontol Usman terlepas dari memek istriku dan dibarengi tetesan sperma dari dalam vagina istriku dan istriku mengambil handuk kecil untuk mengeringkan keringat serta membersihkan memeknya.

Oochh hanya segitu kemampuan si Usman (pikirku), aku agak lega ternyata kemampuannya tidak beda jauh dengan kemampuanku. Aku menghela nafas panjang, dan berharap mudah-mudahan istriku menjadi kapok karena tidak terpuaskan oleh Usman dengan begitu pasti tidak akan mengulanginya lagi. Tapi.. kenyataannya lain dari dugaanku..

Usman betul-betul dapat layanan spesial dari istriku, diambilkannya segelas air minum dingin dan diminum bergantian dengan istriku. Sambil bersandar di dinding, kaki Usman diselonjorkan dan istriku mendekati Usman dengan duduk berhadapan diatas pangkuannya
“Mbak.. susunya masih kenceng dan bulu-bulu memek Mbak yang lebat ini (sambil tangan kanan Usman mengelus mesra memek istriku), membuatku ingin tiap malam bertandang kerumah Mbak ini..”
“Sama Dik Usman.. aku sendiri tiap hari rindu sama kontolmu yang ini..”, (sambil tangan kanan istriku mengelus kontol Usman yang masih lunglai)..
Mereka saling kecup dan saling pagut kembali, tangan kiri Usman memeluk punggung istriku dan tangan kanannya mengelus-elus secara bergantian gumpalan bokong istriku yang mulus dan menggairahkan, sesekali jari tengah Usman mengusap memek dan permukaan anus istriku sehingga istriku melakukan gerakan-gerakan berkedut akibat geli-geli nikmat
“Ouuw.. ouucwww.. woouuwww.. geli Dik Usman..”
Tak kalah lihainya, tangan kanan istriku meremas-remas Kontol Usman yang sudah agak mulai mempunyai semangat baru.
Badan Usman bergeser kearah kasur lipat yang sedari tadi belum dimanfaatkan sambil istriku tetap dipangkuannya. Dan sekarang istriku dalam posisi diatas dan masih menunduk karena pagutan yang terlihat mulai panas kembali.

Kedua tangan Usman meremas-remas bongkahan bokong istriku yang semakin lama bergerak berputar-putar tak karuan. Istriku terlihat mulai bangkit lagi semangatnya yang terpendam akibat belum terpuaskan. Kecupan demi kecupan istriku menjalar dari bibir Usman, ke leher, ke dada dan puting Usman dan terakhir berhenti sejenak mengulum membasahi helm kontol Usman yang sudah berdiri tegak siap perang kembali. Istriku terlihat sudah nggak tahan begitu melihat kontol Usman tegak menantang, dan segera dituntun untuk dimasukkan kedalam memeknya. Diputar-putar kepala kontolnya di bibir memeknya yang sedikit berlendir dengan tangan kanannya dan sesaat kemudian, blless.., istriku sedikit menjerit histeris.
“Woouuwww.. heehhii.. heehhii..”
Badan istriku sedikit bergetar dan diam sejenak sambil kedua tangannya bertumpu pada dada Usman, sebaliknya kedua tangan Usman meremas-remas buah dada istriku.
Mulanya dengan gerakan sedikit memutar dan kemuadian istriku menaik turunkan pantatnya.
“Teruuss Mbak.. terruuss Mbak.. teerruuss..”
“Kocok Mbak Erna sayang.. kocokk.. putaarr.. dan.. teerruuss..”
“Woouwww.. woouwww.. enakk Dik.. woouwww..”

Sambil sedikit membungkuk, istriku melakukan gerakan tarik tekan berulang-ulang, semakin lama semakin cepat dan beberapa saat kemudian..
“Woouuwww.. woouuwww.. akuu mau keluar Dik Usman.. woouwww..”
Gerakan tarik tekan istriku semakin kenceng dan mendadak terdiam sambil pantatnya berdenyut-denyut menekan-nekan..
“Woouuwww.. woouwww.. aakkuu keluar Dik Usman saayyaanngg..”
Mereka saling berpelukann erat dan pantat istriku masih berdenyuutt kenyuutt menekan-nekan seolah-olah Kontol Usman akan dilahap dimasukkan kedalam memeknya sedalam-dalamnya tanpa sisa..
“Wwoouuwww..”

Napas istriku terlihat tersengal-sengal dan berangsur-angsur menjadi diam tanpa gerakan sedikitpun karena lunglai kenikmatan yang habis diraupnya. Bibir Usman dikecupnya berulang-ulang..
“Terimakasih Dik Usman.. terimaksih.. wuennaakk sekali..”
Usman mulai sedikit melakukan gerakan menaik turunkan kontolnya dimemek istriku perlahan-lahan dan gerakan itu rupanya disambut oleh istriku yang masih ingin mencari kenikmatan-kenikmatan yang sudah lama tidak didapatkan dari aku suaminya.
Dengan posisi sedikit dirubah, istriku bertumpuh dengan kedua lututnya disamping pinggul kiri kanan Usman, istriku mulai memompa dan menggosok-gosokan memeknya pada tiang kemerdekaan Usman. Perlahan tapi pasti dan semakin lama semakin cepat kocokan-kocokan yang dilakukan mereka berdua. Istriku dengan gerakan angkat tekan dan Usman gerakan tarik dorong keatas sekencang-kencangnya dan itu semua menimbulkan bunyi.

Istriku mulai terpancing lagi dan..
“Zzhh.. woouwww.. zzhh.. woouwww.. zzhh.. woouwww..”
“Terruuss.. yyaa.. teerruuss.. hmemmhh.. yaa..”
Gerakan mereka berdua semakin berpacu.. kencang.. dan keraass seolah mereka mau mengakhiri semuanya dan..
“Aku mau keluar lagi Dik Usman sayaangg.. teerruuss.. teerruuss..”
Mendadak istriku memeluk erat dada Usman, gerakan sama sekali berhenti dan kembali lagi bongkahan pantat istriku berdenyut-denyut menekan-nekan tanda kenikmatan yang tiada tara.
“Mbak Erna.. memeknya semakin licin dan kenyuutt-kennyuutt Mbak”
“Wuenakk Mbak.. kontolku terasa dipijit-pijit.. Mbak Erna sayaang..”
Setelah berhenti melakukan gerakan beberapa saat, istri langsung dibalik oleh Usman sehingga posisinya dibawah. Ternyata Usman belum sampai final. Dengan rakusnya Usman menghisap puting susu istriku yang semakin memerah dan kenceng.
Istriku menggelinjang-nggelinjang ke-enakan dan pantat Usman mulai memompa naik turun.

Gerakan Usman memompa naik turun lama sekali. Kemudian Usman menghentikan kocokannya dan akhirnya kaki kiri istriku diangkat tegak lurus dan ditekan-tekannya kontolnya sekencang-kencangnya.
“Teruuss.. teruuss.. Dik Usman.. teruuss.. dinding rahimku terasa tersundul-sundul.. wuennaakk Dik.. teruuss dikk..”
Usman mengganti kaki kanan istriku yang sekarang diangkat dan tekanan demi tekanan semakin membuat keringat mereka berdua bercucuran.

Dalam hatiku, edan tenan tetanggaku ini. Di satu sisi dia sebagai lawan seru caturku. dan disisi lain ternyata dia menjadi lawan tanding birahi sex istriku. Aku mangaku kalah dalam mengontrol daya tahan tetapi aku tak boleh menyerah.. aku harus bisa.. tapi.. apa mungkin aku bisa. Aku sedari tadi diam tertegun melihat keganasan mereka berdua dan aku hanya bisa meremas-remas kontolku yang basah karena lendir akibat terangsang hebat. Badanku terasa kelu dan kaku karena depresi, tegang dan amarah yang menjadi satu.

Kulihat lagi permainan mereka, dan ternyata kini kedua kaki istriku diangkat dengan cara tangan kiri Usman memegang pergelangan kaki kanan istriku dan sebaliknya tangan kanan Usman memegang pergelangan kaki kiri istriku. Yang menjadi iri dan aku tertegun, selain Usman masih mengocok kontolnya, kedua kaki istriku dimainkan dengan cara dirapatkan tegak lurus dan kemudian dikangkangkan, begitu terus berulang dan terlihat dari mimik wajah istriku, dia menikmati semua gerakan yang dilakukan oleh Usman.
“Ech.. ouw.. ouw.. yaou.. teruuss.. terruss.. oeii..”
Beberapa menit kemudian gerakan maju mundur Usman semakin kencang dan..
“Mbak.. aku nggak kuat lagi Mbak.. aku keluarin didalam yaa..”
“Nggak papa Dik.. semprotkan semuanya di dalam.. ayoo..”
Dan gerakan Usman mendadak berhenti sambil memeluk kedua kaki istriku, pantatnya semakin ditekankan kedepan dan berkedut-kedut.
“Oochh.. ouch.. creett.. creutt.. cruutt..”
Usman rebah dipelukan istriku..

*****

Pembaca.., Hingga kini aku belum bisa mengambil sikap, harus bagaimana? Disatu sisi, aku memang tidak bisa sejantan Usman, di sisi lain aku nggak mau kehilangan dan menyakiti istriku. Sampai saat ini juga, sikap istriku padaku sama seperti sebelumnya, seolah tidak ada kejadian yang luar biasa dan akupun berusaha seolah tidak mengetahui pengkianatannya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.